New Normal Dan Tujuh Peningkatan Kebiasaan Baru

By Yuniar Djafar - Mei 28, 2020


- Photo by Zydeaosika from Pexels -


Bismillah

Hari-hari ini kata new normal wira-wiri di banyak media berita maupun media sosial. Pemerintah Indonesia membuat kebijakan yang disebut new normal. Kebijakan ini merupakan usaha untuk menghidupkan kembali roda perekonomian yang terpuruk akibat pandemi covid 19. Sejumlah aturan baru yang disebut protokol kesehatan telah dipersiapkan. Personal TNI dan Polri pun disiapkan untuk mendukung kebijakan ini. 

Banyak pihak yang menyebutkan bahwa kebijakan ini sebenarnya terlalu dipaksakan. Alasannya adalah masih belum melandainya kurva epidemi dengan masih bertambahnya kasus covid 19.   

New normal seperti apa? Sepertinya beberapa kebiasaan baru yang timbul sejak pandemi covid 19 berlangsung akan tetap menguat bahkan meningkat. Saya juga melihat adanya potensi kebiasaan baru yang andai diperlukan edukasi maka masa edukasinya pun tidak akan membutuhkan waktu lama. Sebuah peluang bisnis di sisi lainnya. Apa saja? 


1. Konsumsi produk sanitasi dan toiletries yang meningkat. 

Kecemasan tertular covid-19 membuat orang dan institusi menjadi sangat perhatian terhadap kebersihan. Kebiasaan baru berkaitan dengan hal ini seperti rajin cuci tangan bahkan mandi dan mencuci pakaian jelas akan meningkatkan belanja produk sanitasi dan toiletries. 

Dari laman CNN yang mengambil data dari perusahaan e-commerce enable SIRCLO disebutkan bahwa penjualan produk untuk kategori tersebut mengalami lonjakan penjualan pada kisaran 242 persen - 585 persen. Tertinggi adalah untuk hand sanitizer dan terendah adalah vitamin. Data tersebut adalah data per Maret 2020. 

Bisa jadi itu memang pengaruh dari panic buying tapi tren seperti ini masih akan terus berlangsung. New normal yang berarti meningkatnya aktivitas di luar rumah di tengah kecemasan penularan covid 19 itulah alasannya.


2. Belanja kuota internet akan meningkat.

Meski new normal berarti telah dibukanya banyak kantor dan tempat peragangan bahkan sekolah diyakini belanja kuota internet akan tetap tinggi melampaui belanja sebelum pandemi. Kebiasaan bekerja dan belajar di rumah sepertinya masih menjadi pasar yang gemuk bagi penyedia jasa jaringan internet mengingat masih terbukanya kemungkinan naiknya kembali grafik penyebaran covid 19 akibat new normal


3. Belanja online juga akan tetap tinggi.  

Selama new normal  orang-orang sebenarnya masih dalam kondisi was-was karenanya mereka akan berupaya meminimalisasi mobilitas. Orang-orang di kantor akan merasa lebih aman untuk mengandalkan pembelian online untuk kebutuhan makan siang mereka,misalnya. Orang-orang yang tinggal di rumah pun sama.


Photo by Gustavo Fring from Pexels


4. Meningkatnya penjualan masker kain. 

Sejak adanya himbauan penggunaan masker kain selama beraktivitas di luar rumah orang pun ramai mengenakannya. Nah, di masa new normal hal ini akan semakin meningkat. Alasannya mereka akan semakin banyak membutuhkannya karena keberadaan mereka di luar rumah lebih panjang waktunya daripada saat melakukan belajar atau bekerja dari rumah. Seperti diketahui pemakaian masker kain ini disarankan hanya digunakan maksimum 4 jam saja.

Selain itu masker-masker tersebut akan menjadi lebih pendek usia pemakaiannya karena rewashing. Belum lagi peluang munculnya tren masker sebagai bagian dari tren fesyen. Sepertinya juga masker akan semakin mendekati (bukan menggantikan) posisi tissue yang sekali pakai. 


5. Meningkatnya konsumsi produk outfit. 

Kebutuhan untuk sering berganti dan mencuci baju adalah penyebabnya. Kebutuhan outfit untuk bekerja maupun di dalam rumah. Dengan demikian daya pakai baju pun akan semakin pendek dan mudah usang.


6. Peningkatan penjualan helm. 

Walau tidak sebesar penjualan produk sanitasi/toiletries, new normal sepertinya akan membuat orang akan mulai menerima kembali transportasi ojek online meski mereka tidak mau mengambil resiko untuk bertukar pakai helm dengan pengguna lainnya.


Photo by Gustavo Fring from Pexels


7. Kemungkinan akan timbulnya kebiasaan baru mengenakan pakaian pelindung. 

Jika sebelum pandemi pakaian pelindung yang biasa dikenakan adalah potongan pakaian semacam jaket maka terbuka kemungkinan orang untuk mencari pakaian pelindung yang tidak terlalu berat seperti jaket saat ini namun dapat melindungi mereka dari "tersentuh" sesuatu yang tidak diinginkan. 

Kecemasan tersentuh atau tertempel oleh percikan atau droplet dari orang-orang yang bersin saat berada dalam moda transportasi umum ataupun public area membuat mereka membutuhkan pakaian seperti yang saya sebutkan di atas. 

Dalam benak saya, yang terbayang adalah sebagaimana kebiasaan saudara-saudara kita di Timur-tengah, yang mengenakan abaya atau pardesu di Turki atau coat saat winter tapi dalam versi yang lebih ringan dan tidak gerah saat dikenakan. Pakaian pelindung ini akan dilepaskan saat akan memasuki ruang kantor atau rumah. 

Bahan yang ideal adalah kain dari serat sintetis yang kuat benangnya, tidak mudah kusut bahkan tidak butuh disetrika, awet warnanya meski sering dicuci. Cukerpak (cuci, kering, pakai)! Sayangnya bahan seperti ini tidak ramah lingkungan. 😢

Bagaimana menurut kalian?

















  • Share:

You Might Also Like

0 komentar