Puasa Di Antara Cemas Dan Harap

Minggu, 03 Mei 2020


Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay


Bismillah. 


Puasa Yang Luar Biasa

Puasa tahun ini merupakan puasa yang luar biasa, puasa di antara rasa  cemas dan harap. Puasa di tengah hari-hari yang tidak biasa. Puasa di antara berita berita ODP, PDP, OTG, meninggal, korban Covid-19. Puasa yang riuh dengan kabar melambungnya harga-harga bahan pangan, masker, kekurangan ADP, PHK, anjloknya penjualan, issue keamanan yang rawan karena pelepasan napi. 

Puasa dan Rasa Takut Kehilangan

Ah, inilah hari-hari yang saya cemaskan akan terus berlari sedangkan saya tetap saja di sini. Ramadhan tanggal 1, semua berasa lambat.., adaptasi... Hari ke 2, 3 dan 4 beranjak semakin ringan.. 5, 6, 7 dan 9 hingga sepuluh hari pertama... Duh, rasanya pengin nangis. Ramadhan adalah kesan-kesan keindahan, dan duapuluh hari selepasnya adalah diam-diam berlari kemudian pergi. Jika itu terjadi, hati hanya bisa bertanya-tanya akan kita bisa menemukannya pada sisa usia berikutnya?

Lalu apa yang tersisa?  Cemas, itu yang saya rasakan. Andai sebuah rapor, nilai berupa angka tetap saja, tak beranjak dari tahun sebelumnya, sudah beruntung. Inilah yang membuat saya seperti itu...


"Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. At-Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Abani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi-yaitu shohih dari jalur lainnya).

Ya, puasa Ramadhan bagi orang seusia saya diikuti rasa cemas yang semakin menguat. Cemas tidak akan mendapat kesempatan puasa Ramadhan sampai tuntas, cemas tidak akan bisa bertemu pada tahun berikutnya. Padahal Allah sudah menetapkan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, saat pahala dilipat gandakan. 

"Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipat gandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah 'Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): kecuali puasa amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku. (HR. Muslim no. 1151)

Ibnu Rojab menjelaskan tentang hadits itu sebagai berikut, 
"Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa tak terbatas lipatan pahalanya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah 'Azza wa Jalla akan melipat gandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. 

Usia yang memasuki senja, apa lagi yang diharapkan? 


Puasa Sebagai Penguat dalam Hadapi Covid-19

Inilah bagian dari harap itu. Puasa tahun ini, di masa Covid-19 seperti hadiah besar, seperti benteng kokoh yang melindungi kita dari terjangan banjir besar. Bagi saya Covid-19 ini seperti puting beliung yang sukses membuat hati terombang-ambing antara sedih, cemas dan kecewa. Ketiga-tiganya adalah derita. Tapi janji Allah bagi orang yang berpuasa mampu menghentikan keterombang-ambingan itu. Puasa menjadi seperti cahaya yang mampu membuat langkah kembali kokoh. 

Dalam hadits dari 'Abdulah bin 'Amr bin Al 'Ash radliyallahu'anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


"Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak." (HR. Ibnu Majah, no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin 'Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perawi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhori. Lihat catatan kaki Zaad Al-Ma'ad, 2:49-50).

Hadits di atas membawa ketenangan buat saya. Hadits ini pula yang mampu menumbuhkan harapan yang seolah-olah sulit tumbuh di masa Covid-19. 

Menghadapi makhluk tak kasat mata Covid-19 yang menakutkan, mencemaskan disebabkan korbannya yang sangat banyak, tak ada lagi kekuatan yang saya punyai selain doa.  Dan saat puasa bulan Ramadhan saya serasa mendapat penjaminan karenanya. Dan siapa lagi yang bisa memberikan jaminan yang kuat kecuali Allah? Dialah sebaik-baik tempat berharap.


Puasa dalam masa Covid-19 dan Hikmahnya

Mempermudah Untuk Sabar

Dan puasa di tengah pandemi Covid 19 memudahkan kita untuk lebih sabar. Adanya pembatasan-pembatasan selama masa karantina nasional atau pun PSBB bagi saya menghasilkan atmosfer yang sangat membantu dalam membangun kesabaran. 

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas." Q.S Az-Zumar (39);10.


Manyatukan Keluarga 

Yang jelas terasa bedanya puasa tahun ini dan puasa pada tahun-tahun sebelumnya adalah keluarga bisa lebih utuh dalam menjalani waktu-waktu berbuka, sahur bahkan shalat tarawih. Suasana kekeluargaan terasa lebih hangat, real!

Tahun-tahun sebelumnya, anggota keluarga bisa terpencar dengan adanya acara buka puasa bersama. Ayah-bunda berbuka puasa bersama untuk memenuhi undangan kantor, anak-anak sejak pukul 4 sore sudah meninggalkan rumah demi hadiri buka puasa bersama teman-teman mereka. Bahkan saat mudik, di kota kelahiran, di rumah orang tua pun hal tersebut terulang lagi. Undangan reuni dan nostalgia semasa sekolah menjadi agenda yang mengalahkan agenda berkumpul bersama orang tua. Hal yang membuat orang tua di kampung halaman tak bisa apa-apa. Pilihannya hanya dua bagi mereka. Pertama, sedih dan kecewa karena tak bisa lagi dapatkan kerinduan untuk bisa berkumpul utuh bersama anak-menantu dan para cucu. Yang kedua, menelan kepahitan itu semua dengan niat untuk belajar ikhlas. Tak henti-henti orang tua diuji untuk ikhlas, dan "penguji"nya kali ini adalah anak-anak yang dirindukannya.

Kini semuanya dipaksa untuk bersatu menjalani puasa bersama-sama meski hanya dengan keluarga inti.


 "Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh; 5-6)



















Sumber: 

Text hadits dan penjelasannya, diambil dari www.rumaysho.com

Posting Komentar