Puasa Di Tengah Pandemi, Alhamdulillah...

Jumat, 08 Mei 2020


Gambar oleh OpenClipart-Vectors dari Pixabay


Bismillah.

Apakah puasa itu? 
Puasa adalah latihan untuk menjadi takwa.

"Hai, orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." QS. Al Baqarah (2), 183. 

Apakah takwa itu?

Menurut saya takwa itu pembebasan. Kita menempatkan kepatuhan kepada Allah dalam pucuk hierarki kehidupan kita. Ini membuat kita  fokus. Karena jika kita menempatkan orang atau benda, atau jabatan pada hierarki tertinggi dalam kehidupan bisa dipastikan "dunia" kita akan labil, mudah terombang-ambing. Sebabnya semua yang saya sebutkan di atas adalah sesuatu yang tidak kokoh. Mereka semua adalah ciptaan, bahkan buatan. Menempatkan selain Allah pada puncak khidupan membuat kita musti mengeluarkan banyak energi karena yang kita kejar adalah sesuatu yang tidak bisa mengendalikan diri mereka sendiri. Mereka dipengaruhi oleh kehendak lain, dipengaruhi oleh musim bahkan mood. Parah, kan?

Bertakwa berarti membebaskan diri dari ketergantungan kepada apa pun selain Allah.

"Katakanlah, wahai Rabb yang mempunyai kerajaan! Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." Q.S Ali Imran (3); 26.

Saat kita menggantungkan diri hanya kepada Allah maka kita telah bergantung pada tempat yang kokoh karena semua berada dalam kendali-Nya, dalam kekuasaan-Nya.

Berpuasa di tengah pandemi.

Alhamdulillah 'ala kulli hal, segala puji bagi Allah untuk setiap keadaan. Berpuasa di tengah pandemi sesungguhnya sangat membantu dalam menjalani proses takwa itu. Kita tidak bisa ke mana-mana sehingga mengurangi potensi yang bersifat "korosif"  dalam menjalankan kepatuhan kepada-Nya.

Pandemi ini merupakan lahan yang subur untuk menumbuhkan dan menguatkan tunas ikatan antar anggota keluarga. Kita"dipaksa" untuk itu. Kegiatan yang nampak seolah-olah baik tapi justru melonggarkan ikatan antar anggota keluarga, pada saat pandemi ini tak lagi berjalan karena adanya pembatasan. Buka puasa bersama (orang lain) mendekatkan ikatan dengan mereka namun perlahan melepas ikatan keluarga batih, tanpa kita sadari. Beda mungkin jika bukbernya bersama seluruh anggota keluarga. Jadi cuma pindah tempat saja. Tapi, undangan bukber yang seperti itu jarang kita temukan. Dan pandemi ini mampu mengembalikan kita pada sebuah tatanan lama yang mengokohkan hubungan keluarga.

Pandemi telah menyatukan ikatan keluarga "24 jam non stop"! Bekerja dari rumah, belajar dari rumah pada saat bulan puasa adalah sebuah kesempatan yang mahal. Entah kapan akan bisa kita dapatkan lagi.

Pandemi memang mencekam, tapi dengan adanya pembatasan kita mampu menghadapi situasi mencekam itu dalam format yang solid. Kepala keluarga bisa menjalankan kendali penuh dalam mengatasi masalah yang timbul karena situasi. Sedangkan ibu bisa lebih tenang karena orang-orang yang disayanginya benar-benar berada dalam jangkauan. Anak-anak pun menjadi lebih mudah untuk raih pelukan kehangatan orang tua karenanya.

Pandemi ini, Alhamdulillah, juga mengajarkan arti ketundukan yang sebenar-benarnya karena penyebab utama pandemi ini adalah  makhluk yang kita tak mampu melihatnya secara kasat mata. Makhluk yang bisa melumpuhkan siapa pun hatta mereka yang memiliki istana, benteng dan kendaraan tempur. Semua yang menjadi kebanggaan tidak mampu mencegah bencana yang diakibatkan oleh makhluk tersebut. Tak seorang pun, kecuali jika Allah mengijinkan.

Ya, sesungguhnya pandemi ini adalah blessing in disguise bagi kita, sebuah rahmat yang terselubung. Alhamdulillah.

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. QS. Al Anbiya (21); 35.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
"(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana, terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang sabar dan siapa yang berputus asa." [Tafsir Ibnu Katsir (5/342-cet Daru Thayyibah)]

Semoga puasa kita diterima Allah. Aamiin. 






Terima kasih sudah membaca 😊










Sumber text Al Qur'an dan penjelasannya: www.muslim.or.id














Posting Komentar