Baju Baru-Baju Lama & Fast Fashion

Selasa, 12 Mei 2020



Photo by Kai Pilger from Pexels


Bismillah.


Rasulullah shalallahu'alayhi wa sallam dan Baju Khusus

Kapan terakhir kali belanja baju? Punya jadwal pasti untuk belanja baju?
Idul Fitri dan baju baru seolah menjadi tradisi. Tapi benarkah baju baru itu  tuntunan saat beridul fitri? 

Jika kita ingin mengikuti sunnah beliau shalallahu 'alayhi wa sallam yang benar adalah seperti berikut,

"Nabi shalallahu 'alayhi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fithri dan Idul Adha juga untuk digunakan pada hari Jum'at." (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya 1765).

Jadi yang beliau, shalallahu alayhi wa sallam kenakan saat berlebaran adalah baju terbaik beliau, bukan baru, yang hanya beliau kenakan saat kedua hari raya (Idul fitri dan Idul Adha) dan hari Jum'at. Karena itu perilaku konsumtif (tak hanya baju saja) seperti koleksi baju atau pakaian sangat jauh dari tuntunan. 


Belanja Baju dan Penyelamatan Lingkungan.

Selama ini yang sering kita dengar gaungnya adalah penumpukan sampah plastik. Bahkan kasus-kasus biota laut yang mati karena termakan sampah plastik semakin hari semakin meningkat. Biasanya yang nampak dalam berita tersebut  adalah sampah plastik berupa tas kresek/tas belanja sekali pakai,  kemasan makanan atau minuman berupa botol plastik dan kantung plastik atau sedotan plastik. Tapi taukah bila sampah fesyen ini juga menyumbang gunungan sampah anorganik? 


"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." Q.S Ar Rum (30); 41.


Fast Fashion

Cara orang memandang baju saat ini sepertinya harus diluruskan. Tuntutan pasar  dan strategi produsen bertemu dalam satu hal yang akhirnya menghasilkan tren fesyen yang berubah cepat serta harga yang murah yang kemudian dikenali sebagai konsep fast fashion

Untuk meningkatkan serapan pasar mereka membagi tren fesyen ke dalam beberapa musim, mengikuti hadirnya empat musim dari negara-negara yang mengalami musim-musim tersebut. Sehingga pasar didorong untuk selalu berbelanja pada setiap musim tersebut. Dan, celakanya negara yang beriklim tropis, yang hanya memiliki dua musim juga mulai mengikuti ke empat musim tersebut untuk kepentingan penjualan produk mereka. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebelum ini di negara kita hanya mengenal hari-hari raya keagamaan sebagai 'momentum' belanja baju, seperti pada saat Idul Fitri dan selanjutnya saat Natal.

Mengutip dari www.medium.com/@setali, industri tekstil masuk ke dalam 10 besar industri dunia yang menggunakan dan mencemari air. Laman tersebut melanjutkan, bahkan berdasar data yang dilansir Boston Consulting Group pada 2015 saja industri mode menghabiskan 79 miliar meter kubik air, melepaskan 1.715 ton CO2 dan memproduksi 92 juta ton sampah. 

Lebih dari 60 persen serat kain sekarang sintetis, berasal dari bahan bakar fosil. Jadi jika baju kita berakhir di tempat pembuangan (sampah) bisa dipastikan itu tidak akan terurai. Diketahui sekitar 85 persen limbah tekstil di AS dibuang ke tempat pembuangan sampah atau dibakar. Data untuk negara +62 sejauh ini belum didapatkan. Tapi kita sudah bisa bayangkan dengan membuat perbandingan sederhana berdasar data jumlah penduduk. Mungkin hasilnya tidak akan benar-benar signifikan dengan cara tersebut tapi adanya kenyataan potensi sampah baju yang tidak terurai saja semestinya cukup membuat kita prihatin.  

Fast fashion juga memiliki link masalah yang disebut sebagai salah satu sudut paling gelap dari ekonomi dunia. Produk utama dari Revolusi Industri sangat penting untuk pengembangan sistem kapitalis global. Dan penyalah gunaannya dibangun di atas sejarah yang panjang. Buruh budak di Amerika Selatan memasok pabrik-pabrik di Inggris yang terkenal karena mempekerjakan tenaga kerja anak-anak. Dan sejarah di Amerika Serikat  mencatat kebakaran pabrik yang merenggut nyawa para pekerja imigran baru pada pergantian abad 20. 

Dana Thomas, seorang penulis bergaya veteran melaporkan bahwa ada pekerja imigran di Los Angeles hari ini (th. 2019, pada saat Thomas menuliskan ini--pen) yang menjadi korban pencurian dan eksploitasi upah, belum lagi apa yang terjadi di Cina, Vietnam dan Banglades. 

(Indonesia? 😉)


Bagaimana sikap seorang muslim?

Menyikapi hal ini, seorang muslim diharapkan memiliki sifat seorang 'Ibadurrahman. Apakah 'Ibadurrahman itu? Hamba Allah yang beriman, yaitu mereka yang berada di pertengahan dalam membelanjakan harta.

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara yang demikian." Q.S Al Furqan (25); 67. 











Sumber text hadist dari www.almanhaj.or.id








































Pandemi telah menjadikan  pembicaraan tentang kebutuhan baju baru semakin tidak relevan. Bahkan bicara tentang upadated fashion trend, sama-sama tidak relevannya saat ini. Keadaan yang memprihatinkan di tengah pandemi menggeser perhatian orang dari perbincangan baju pada kebutuhan sehari-hari.

Orang-orang lebih memilih kebutuhan produk kesehatan bahkan kebutuhan pangan sehari-hari dengan harga yang lebih hemat. Atau bila tetap saja harga tidak bisa ditekan, orang-orang akan mengalihkan ke bahan pangan yang lebih sehat, lebih alami untuk dapatkan manfaat bagi daya tahan tubuh yang terjaga.

Baju baru dan baju lama telah mengambil tempat yang sama saat ini. Baju baru menggantikan baju lama bukan karena ingin update tren melainkan karena kebutuhan.

Pandemi membuat banyak orang menjadi realistis. Mereka menempatkan kebutuhan pada level tertinggi belanja, bukan keinginan.

Sustainability





Posting Komentar