Industri Fesyen Pos Covid 19 Dan Go Digital

By Yuniar Djafar - Mei 01, 2020


- Gambar oleh Ventus17 dari Pixabay -



Bismillah.


Covid 19 dan Dampaknya


Berita Covid 19 tak jua reda. Dampaknya benar-benar membuat dunia kacau balau sehingga beberapa pihak menganggap bencana ini sebagai tonggak perubahan yang menghadirkan tatanan dunia baru. Salah satunya adalah dunia mode atau fesyen. Tak hanya kelas industri mikro yang kalang kabut, industri fesyen berkelas global yang dikenal mapan dan meraksasa seperti yang terdapat di Itali, Cina,Korea, Jepang, Amerika Serikat dan pusatnya di Perancis pun mengalami hal yang sama. Department Store besar dan terkenal di seluruh penjuru dunia pun tak dapat lagi menunda menutup pintu mereka seperti yang tejadi pada Nordstorm, Neiman Marcus hingga Saks Avenue tak luput dari hal ini. 

Label-label mewah yang sangat bergantung pada toko fisik mereka telah menghadapi anjloknya penjualan mereka. Perusahaan investasi Bernstein pada 18 Maret mengatakan bahwa paruh pertama 2020, "kemungkinan akan menjadi yang terburuk dalam sejarah industri barang mewah modern". Selanjutnya Bernstein memberi catatan kepada para investor, "Skenario ini lebih buruk daripada tahun 2008 karena tampaknya tidak ada celah lain kecuali kemungkinan kuantum pelipur lara dari online."

Toko-toko fesyen mewah di seluruh barat tutup. Burberry yang telah menutup 40% toko globalnya, penjualannya turun 40% -50% sejak 24 Januari. Harapan terhadap penjualan melalui e-commerce oleh banyak label juga tidak seindah yang dibayangkan karena sektor online juga tidak kebal dari perlambatan disebabkan jalur pasokan yang mengalami masalah juga. 

Manufaktur barang mewah di Itali kini telah berhenti seluruhnya. Dalam sebuah pidatonya pada tengah malam melalui Facebook, PM Giuseppe Conte memerintahkan untuk menutup seluruh pabrik yang tidak penting sejak 21 Maret. Para pekerja rantai pasokan fast fashion dunia menghadapi bencana bersamaan dengan banyaknya pembatalan order. Estimasinya diperkirakan mencapai $ 100 million untuk yang dialami oleh Bangladesh saja selama sepekan. 
 

Apa yang mereka lakukan?

Situasi krisis dari apa yang dilansir oleh Vogue.com diketahui banyak perusahaan mencari dukungan baik dengan permintaan untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah maupun berupaya untuk mendapatkan kepemilikan baru. 

Di AS paket bantuan darurat senilai 1.8 triliun dollar untuk ekonomi tidak disepakati oleh senat pada 22 Maret. Di Inggris, pengenalan semacam subsidi pajak usaha dan kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membayar 80% upah karyawan benar-benar menolong perusahaan fesyen kecil untuk bertahan hidup. Sementara spesialis produsen pakaian formal pria Moss Bros telah dijual kepada Crew Clothing sedangkan Cath Kidston, merupakan salah satu dari sejumlah perusahaan Inggris yang sedang mencari pembeli. 

Di luar dari hal di atas ada hal yang mendasar yang sepertinya akan menjadi tren baru dalam pengelolaan bisnis fesyen, yaitu 


Go Digital

Yang dimaksud go digital di sini adalah bereksperimen dengan teknologi yang lebih canggih. Secanggih apa? Mungkin ucapan Matheww Drinkwater, Kepala FIA (Fashion Inovasion Agency) di London College of Fashion  dan Aileen Carville, CEO Skmmp bisa membantu:

"Covid 19 telah memaksa brands untuk terlibat dan bereksperimen dengan menggunakan teknologi imersif, yaitu teknologi yang mengaburkan dunia nyata dan dunia digital atau simulasi berbasis 3D. Kami telah dibanjiri permintaan untuk menciptakan pakaian virtual, panggung peragaan (catwalk) virtual dan ruang pamer virtual."

Situasi akibat virus Covid 19 yang memaksa orang untuk melakukan jaga jarak telah mendorong  disainer dan pabrikan untuk beralih kepada teknologi imersif. Berkaitan dengan teknologi ini, Kerry  Murphy, pendiri The Fabricant, sebuah rumah fesyen yang hanya memproduksi pakaian digital menyampaikan pandangannya. "Merek-merek telah mencari upaya-upaya radikal dalam mendefiniskan ulang budaya dan operasional mereka dengan lebih mengarah ke digital mindset." 

Sebelum pandemi datang Skmmp, sebuah perusahaan start-up yang bermarkas di Dublin, Irlandia telah membangun ruang pamer digital eksklusif untuk agensi grosir fesyen yang digabungkan dengan ruang pamer fisik selama Pekan Mode. Platform Skmmp secara digital  menyelenggarakan banyak koleksi fesyen mereka.

"Di lokasi Fashion Week kami menciptakan hologram "model showroom" virtual kami. Pembeli dapat melihat bagaimana pakaian itu terlihat dan dipasang menggunakan augmented reality kami," kata sang CEO, Aileen Carville.

Teknologi imersif meliputi realitas virtual (VR), augmented reality (AR) dan realitas campuran (MR) sebenarnya telah diterapkan industri fesyen sejak beberapa tahun lalu. Dunia fesyen memanfaatkan teknologi tersebut untuk:


Catwalk

Tahun 2014, Topshop menggelar catwalk virtual pertama di dunia. Empat orang yang terpilih mengenakan headset dan headphone realitas virtual di jendela toko utama Topshop yang terletak di Oxford Circus untuk menonton pertunjukan langsung dari Tate Modern, sebuah galeri seni di London. Dari lokasi yang terpisah itu empat orang tersebut tidak hanya dapat melihat para model berjalan langsung melewati mereka melainkan bahkan sampai dapat melihat langit-langit gedung Tate Modern hingga mereka merasakan sensasi para selebriti yang duduk hampir di sebelah mereka. Selain itu mereka juga mendapat updated twitter yang terus bergerak.

Dan yang terbaru adalah saat Three, layanan telekomunikasi dan internet, 
bekerja sama dengan London Fashion Week dalam memperkenalkan peluncuran 5G yang lebih luas dengan acara pertunjukan MA Fashion Central Saint Martins. Acara ini menggabungkan fesyen dan teknologi terkini termasuk audio spasial, heptic feedback, 46 m proyektor untuk panggung peragaan berbagai aroma. Pertunjukan ini merupakan kerja sama jangka panjang pihak Three dengan Central Saint Martins. Kerja sama ini juga menghadirkan bauran catwalk  realitas 5G pertama di dunia pada Februari 2019.


Percobaan Sebelum Membeli (Tester)


Menawarkan sebuah proyek digital "coba-dulu-sebelum-membeli" menjadikan perusahaan membangun jembatan penghubung antara saluran penjualan offline dan online. Pelanggan bisa mencoba produk pada sebuah layar dan melihat bagaimana kelihatannya mengenakan produk itu, atau sesuai atau tidaknya sebuah make up menempel pada wajah dan lain-lain.

Tahun lalu, banyak brand yang menggunakan teknologi AR (Augmented Reality) dan 100 juta orang telah memanfaatkannya. Sebagai contoh, Dior menggunakan teknologi AR ini dengan mengijinkan pelanggan mencoba sunglasses mereka melalui ponsel cerdas. Melalui sebuah filter baru di instagram pengguna bisa memakai sunglasses DiorSoLight ke wajah mereka pada sebuah image.  

Merujuk kepada International Data Corporation, sektor ritel berharap bisa melakukan belanja senilai $1.5 miliar untuk penggunaan AR dan VR teknologi. Pada tahun ini ASOS telah melakukan gebrakan dengan meluncurkan "see My Fit." Dengan peralatan yang menggunakan teknologi AR Anda bisa mencoba sebuah setelan busana dengan 16 model bentuk tubuh yang berbeda untuk memberi pelanggan ide setelan yang cocok buat mereka.

"Pada percobaan melalui "see My Fit" kami menggunakan teknologi AR terbaru untuk memberi keleluasaan pada pelanggan sehingga mereka bisa memilih dari keenam belas model itu mana yang bentuknya sesuai dengan bentuk tubuh pelanggan. Selanjutnya pelanggan bisa meletakkan baju pilihan pada model tadi untuk menentukan cocok tidaknya baju itu dengan keinginan mereka saat dikenakan.  Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan bila melakukan teknik lama berupa pemotretan," jelas Tim Carey, senior content manager di ASOS studio. 

Pengalaman di Dalam Toko

Banyak orang bilang era jalanan atau jalan raya sudah mati. Bisakah teknologi membantu agar kebiasaan belanja tetap hidup? XR tentu saja bisa digunakan dan menjadi pembeda bagi orang yang ingin mengunjungi toko fisik daripada belanja online. Kenyataannya saat ini banyak toko ritel telah menggunakan teknologi imersif.

Zara adalah salah satu contohnya. Menggunakan AR teknologi untuk menghadirkan virtual model ke toko. Teknologi ini diluncurkan di 120 toko secara global. Dengan mengunduh dan menggunakan aplikasi Zara AR di ponsel, pelanggan yang mengunjungi toko dapat melihat model virtual berjalan dan berbicara menggunakan produk-produk pilihan dari Zara. Jika tertarik, tinggal klik dan langsung beli. 

Hmm, menarik, ya? Akankah itu sampai di negara kita? In sya Allah, sampai.


#BPN 30DAYS RAMADHAN 2020











Sumber:

www.vogue.com

www.customerthink.com

id.wikipedia.org

www.siliconrepublic.com

www.forbes.com






















  • Share:

You Might Also Like

0 komentar