Masker Kemarin, Masker Hari Ini

Senin, 06 April 2020


Gambar oleh Hank Williams dari Pixabay



Bismillah.

Saya penasaran saat melihat Menteri Pertahanan dan Menteri Kesehatan serta pejabat terkait berfoto bersama dengan mengenakan masker di sebuah media berita. Padahal beberapa waktu sebelumnya dengan jelas dan tegas Menteri Kesehatan, bapak Terawan menyebutkan bahwa masker hanya diperuntukkan bagi yang sakit. Jika sehat jangan pakai masker. Intinya semacam itulah. Saya juga ingat saat beliau menegur wartawan yang kedapatan mengenakan masker saat wawancara itu. Lalu apa yang menyebabkan mereka berubah? Belum hilang rasa penasaran, kemarin pagi saya terkejut menemukan postingan seorang teman  yang berisikan link sebuah kantor berita, CNBC yang mewartakan keputusan pemerintah mewajibkan pemakaian masker di tempat umum dengan ancaman hukuman penjara 3 bulan bagi pelanggarnya.



Gambar dari Pixabay


Setelah oprek sana-oprek sini akhirnya saya temukan tulisan Zeynep Tufekci tanggal 17 Maret 2020 di kolom Opini The New York Times. Dari tulisannya saya bisa paham runtutan alur kejadian atau pemikiran yang mendasari perubahan kebijakan tentang penggunaan masker itu. Meskipun tulisan itu didasari atas apa yang terjadi di Amerika Serikat, menurut saya situasi di sana 11/12 dengan yang terjadi di negara kita. 

Judul tulisan dari sang Lektor Kepala di University of North Carolina itu kalau saya terjemahkan (terjemahan bebas, sebebas-bebasnya 😄) adalah Mengapa Larangan Mengenakan Masker Bagi Masyarakat (Akhirnya) Menjadi Bumerang. 

Pemangku pengelolaan negara yang menyatakan bahwa masyarakat umum (yang sehat) tidak membutuhkan masker sebenarnya memiliki tujuan yang bisa dipahami, yaitu untuk mencegah terjadinya kelangkaan pasokan masker. Tapi sepertinya sudah kepalang tanggung karena masyarakat sudah memborong masker sejak viralnya pneumonia misterius di Wuhan, Cina. Apalagi saat dikabarkan jika virus yang kemudian diidentifikasi bernama Corona atau Covid 19 itu sudah mulai menyebar ke negara-negara di seluruh dunia. Akhirnya krisis masker pun terus melesat. Di luar dugaan itu perintah atau himbauan yang disampaikan justru mempertegas terjadinya kelangkaan ali-alih meyakinkan masyarakat bahwa masker tidak dibutuhkan oleh mereka yang sehat.

Kenyataan berikutnya adalah adanya kebiasaan pemakaian masker pada hari-hari "normal" yang membuat pemakainya merasa "nyaman", tidak sekedar "aman". Terlebih dalam situasi yang membuat semua orang khawatir,  mengenakan masker menjadi semakin sulit dilepas. Dengan demikian meski dianggap tidak membutuhkan mereka tetap mengenakan masker karena alasan itu. Hal ini pula yang menyebabkan himbauan pemerintah tidak bisa menyetop laju kelangkaan masker.

Keberadaan dunia daring (online) memudahkan siapa saja untuk mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di luar. Dari dunia daring mereka bisa meihat bahwa para pejabat WHO mengenakan masker saat briefing berita mereka. 

Selain itu, menurut Tufekci, di Hongkong dan Taiwan yang lebih dulu menerapkan kebijakan social distancing dan penggunaan masker secara umum menunjukkan pengaruh yang cukup besar dalam mengontrol pandemi ini. Para pejabat kesehatan Hongkong meyakini pemakaian masker secara umum merupakan bagian dari solusi dan merekomendasikan pemakaiannya. Faktanya Taiwan merespon Corona dengan segera meningkatkan produksi masker.

Kemudian, setelah pihak rumah sakit banyak yang kewalahan keluarlah himbauan  pemerintah untuk penderita yang terpapar namun dalam tingkat yang ringan agar dirawat di rumah. Konsekuensi logisnya, penggunaan masker adalah sesuatu yang tak dapat ditinggalkan saat merawat mereka yang sakit di rumah. 

Dan yang terbaru, ditemukannya bukti adanya orang yang terinfeksi tanpa gejala yang memungkinkan mereka menjadi agen penularan. Biasanya mereka adalah kaum muda dan mereka tidak menyadari jika mereka tertular. Karena WHO mengatakan bahwa masker mengurangi kemungkinan orang yang terinfeksi menulari orang lain maka setiap orang harus mengenakan masker. Titik.

Terjawab sudah rasa penasaran saya. Ada yang penasaran juga seperti saya? 














Sumber

The New York Times, Opini, Zeynep Tufekci.









Posting Komentar