Cerita Grannie

Senin, 20 April 2020



Gambar oleh Alexandra Koch dari Pixabay diolah menggunakan Canva




Bismillah.

Dulu waktu kamu masih kecil, sekitar 2 tahunan, ya, kurang lebihnya segitulah. Saat itu ada wabah. Orang-orang bilangnya pandemi karena wabah itu menyerang orang seluruh dunia. Semua negara, hampir tidak terkecuali, kena wabah ini. 

Negara yang pertama kali kena adalah Cina. Beritanya, awal mulanya dari Wuhan, nama kotanya. Saat itu beritanya mengerikan sekali. Gambar orang-orang mati di jalanan tergeletak seperti onggokan sampah berserakan. Orang-orang berebut ke rumah sakit sampai-sampai rumah sakit tidak mampu menampung. Harga masker penutup hidung dan mulut melambung. Begitu itu masih ada juga yang bikin lelucon, ada foto orang pakai pakaian dalam sebagai masker. Yah, pada saat itu berita tentang Corona, nama virus itu, sangat-sangat santer sehingga bercampur dengan hoax. Tapi grannie masih bisa menyaring, kok, mana berita yang benar, mana yang palsu. 

Grannie waktu itu bertanya-tanya akankah virus itu masuk ke negara kita? Kan, negara tetangga kita yang dekat-dekat seperti Singapura dan Malaysia sudah mulai banyak yang kena. Grannie was-was karena saat itu negara kita memang lagi dekat dengan pemerintahan Cina. Banyak proyek nasional bahkan yang dikerjakan oleh pekerja dari negara tersebut. Kalau bekerja sama dengan negara itu, kabarnya semua pekerjanya didatangkan dari negara Cina sehingga banyak yang protes karena itu. 

Awalnya pemerintah negara kita bilang tidak ada, tidak mungkin masuk ke negara kita. Kenapa? Katanya karena negara kita negara katulistiwa, yang karena panasnya maka virus itu tidak bisa bertahan hidup di sini. Percaya, gak percaya, sih... Kalau lihat yang ngomong mestinya bisa dipercaya karena mereka kan, orang-orang pinter tapi grannie ragu-ragu. Pada saat seperti itu ada gubernur Jakarta yang menyebutkan adanya penderita virus itu. Dibantahlah sama pejabat pusat, menteri kesehatannya. Seru pokoknya... Hehehe... Subhanallah, setelah pejabat pemerintah negara kita membantah, selang 2 hari, iya seingat grannie segitu lah, eh...bapak presiden mengumumkan korban pertamanya. Wahh..., mulailah orang-orang panik.

Mulailah terjadi kelangkaan masker bahkan di sekitar Jakarta ada orang-orang yang mulai panik memborong bahan-bahan makanan. Mengapa? Karena biasanya kota-kota atau negara yang terkena epidemi tersebut mencegahnya dengan lockdown atau menutup semua pintu masuk-keluar kota atau negara itu. Grannie mulai pasang spion dengan tanda kutip. Hahaha... 😄 Maksud grannie pasang mata dan telinga kalau-kalau hal seperti itu terjadi juga di Surabaya. Bersukurlah ternyata hal itu tidak terjadi di Surabaya. 

Korban semakin banyak. Ada istilah ODP, PDP... Ada lagi yang pakai istilah ODP, PDP dan Positif. Embuhlah... Grannie sempat pusing dengan istilah-istilah itu. Kalau grannie bilangnya sih, korban atau penderita, gitu aja... 

Yang bikin grannie stress itu waktu diberitau tentang virus yang akhirnya disebut Covid 19 itu. Sempat simpang siur... Menterinya bilang bisa sembuh sendiri. Ada yang bilang lebih berbahaya penyakit-penyakit kayak diabetes, kanker, jantung. Tapi saat rumah sakit yang ada kewalahan, suara-suara seperti itu hilang dengan sendirinya. Sampai-sampai pemerintah pusat maupun daerah menjadikan wisma atlet bahkan kelas-kelas sekolah sebagai rumah sakit. Kebayang kan, ngerinya? Gak penting lagi lebih berbahaya mana Covid 19 dengan penyakit-penyakit konvensional dengan tanda kutip itu. Sebabnya salah juga membandingkan Covid 19 dengan penyakit-penyakit itu. Penyakit-penyakit lama itu kan, penyebarannya tidak seperti virus ini. Tidak serentak... 

Sudah gitu sempat juga salah penanganan soal masker. Pada awal penyebaran, menteri kesehatan dan para pejabatnya bilang orang sehat gak perlu pakai masker. Gak guna, gitu. Tapi setelah kira-kira 3 mingguan di televisi dan media sosial mereka yang bilang begitu tertangkap kamera mengenakan masker semua. Pussiiing juga... Akhirnya mulailah sosialisai penggunaan masker tapi yang disarankan masker berbahan kain. Mungkin tadinya mereka ngomong gak penting, gak penting itu untuk menghindari kelangkaan masker ya... Makanya, wuk..., kalau kamu besok diberi amanah jadi pejabat atau pemimpin yang hati-hati dalam membuat kebijakan. Pikir dulu baik-baik sebelum berbicara supaya orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu atau bawahanmu itu juga bisa tenang dan karenanya jadi menghormati kamu.

Jujur grannie stress banget waktu itu. Mikir penyebaran virus itu sudah bikin kepala nyut, nyut... Gimana enggak? Kita disuruh cuci tangan bersih-bersih, pakai desinfektan, sering-sering mandi, cucian menumpuk. Capek fisik jelas... Tapi capek yang psikhis itu yang lebih berat. Bingung. Ada tamu jadi suuzhan. Kalau terpaksa keluar rasanya semriwing, ngeri, gitu... Eh, sudah gitu ada kebijakan menteri yang membebaskan napi dari penjara. Jadilah berita begal, jambret bikin suasana tambah horor... Subhanallah...

Hikmahnya memang besar. Grannie jadi seperti diingatkan kembali betapa manusia ini sebenarnya lemah. Berhadapan dengan makhluk Allah yang kalau gak pakai alat khusus gak kelihatan, saking kecilnya, kita sebagai manusia sudah tak berdaya. Tidak ada lagi tempat berlindung kecuali kepada Allah. Yah, shalat jadi tambah khusyuk, mulut jadi lebih sering dzikir...

Tapi ada sedihnya. Kan, saat Covid  itu menyebar sudah jelang Ramadhan. Kami tidak bisa taraweh di masjid setelah sebelumnya masjid jadi makin sepi karena shalat jamaah dilarang. Pengajian banyak yang tutup. Sekolah, perkantoran juga tutup. Awalnya cuma disuruh jaga jarak, lama-lama sudah gak mempan lagi jaga jarak di tempat-tempat umum, korban juga terus meningkat. Surabaya termasuk zona merah. Penambahan jumlah korban perharinya  mulai melampau Jakarta. Yang menjengkelkan itu sudah keadaan gawat sperti itu orang-orang juga susah diajak patuh. Akibatnya masa karantina, pengganti istilah lockdown yang semula diputuskan 2 minggu terus diperpanjang. Jadilah Ramadhan tidak seperti sebelum-sebelumnya. Idul Fitri pun kami tidak bisa ke mana-mana. Tapi para ustadz menenangkan ummat bahwa pada jaman Rasulullah pun pernah kejadian seperti ini. Subhanallah, laa quwwata illa billah. 

Grannie berdoa semoga peristiwa seperti yang terjadi saat kamu kecil itu tidak pernah terjadi lagi. *Mandega tekan semono...

Ayo, sudah... Bereskan buku-bukunya. Besok meski sekolah libur... Loh, masih WFH ya? Work from home... Eh, ini tanggal berapa sih, tahun berapa? Grannie kok, lupa, ya...??



*Mandega tekan semono, bahasa Jawa: semoga berhenti sampai di situ saja.











2 komentar

  1. Semoga pandemi segera berlalu ya mbak. Salam kenal juga dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, salam kenal balik, mbak @Maria8181

      Hapus