Jika Dia Pergi, Sebuah Kontemplasi Tentang Covid 19

Sabtu, 25 April 2020




Bismillah.

Hmm, jika Covid berakhir... Mungkin saat itu rasanya akan seperti suasana hati napi yang menerima kunci kebebasan. Seperti nara pidana yang dipersilakan meninggalkan lapas... Apakah mereka akan gembira? Ah, pertanyaan yang naif, ya? Tapi jika ditanya akankah mereka bersukur?  Maka jawabannya akan membedakan antara napi yang insaf dan yang kambuhan.

Bagi yang terpenjara dan mendapat hikmah dengan terampasnya kebebasan mereka pasti penjara akan menjadi tempat belajar yang akan menguatkannya justru untuk "tidak kembali". Ya, karena dia ingin meraih tahapan yang lebih baik lagi. Mereka akan bersukur karena penjara telah menyadarkannya. Tapi bagi yang tidak bisa menemukan hikmah di dalamnya pasti mereka akan seperti orang yang ingin membalas dendam dan "kelaparan" dengan rasa lapar yang tidak akan pernah menjadi "kenyang" sehingga memiliki  potensi untuk membawanya kembali ke lapas. 

Covid 19 memang telah merampas "kebebasan" banyak dari kita. Tapi di balik itu terselip kegamangan yang melahirkan harap semoga saat virus itu pergi tidak ada yang turut pergi bersamanya kecuali keburukan dan bahayanya.

Keganasan virus itu memang menghadirkan banyak kengerian sehingga hal-hal yang tidak lumrah pun terjadi. Seperti dibawa kepada tatanan yang asing, yang ganjil. Viral di media sosial video yang menampakkan kemarahan orang tua terhadap anak yang mengunjunginya karena rasa rindu. Bagaimana virus ini telah menjadi pembatas bagai dinding yang tak kasat mata terhadap orang-orang yang kita hormati dan cintai?! Mencium tangan mereka yang dulu mereka ajarkan sendiri untuk menunjukkan bakti kepada mereka, kini menjadi sesuatu yang kita sepakati untuk hindari. 

Virus ini telah menimbulkan suuzhan di antara, bahkan, anggota keluarga sendiri. Bagaimana lagi jika dengan orang luar, yang tidak dikenal?

Covid 19 ini telah menyebabkan kecemasan sehingga hati sulit untuk menjadi tenang. 

Tapi di balik itu Covid 19 mengajarkan hal-hal besar bahwa senjata dan benteng pertahanan pun tidak berguna jika dia "menempel". Sesuatu yang kecil, saking kecilnya sampai-sampai diperlukan alat khusus untuk melihatnya. Tanpa suara, tanpa aroma, tiba-tiba saja manusia tak berdaya hingga menuju alam baka. Bahkan seorang kaya pun, harta bendanya pun tak bisa menolak dari keganasan makhluk kecil, yang bernama Covid 19.

Covid 19 telah menyadarkan kita kalau kita mau berpikir sedikit saja. Bahwa sesungguhnya ada banyak makhluk Allah yang tidak kasat mata sepertinya tapi kita tetap aman, tanpa gangguan. Dan hanya dia saja yang diijinkanNya saat ini untuk membuat porak-poranda seluruh dunia. Betapa Maha Perkasanya Allah. 


"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." Q.S At-taghabun; 11.
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Pokok dari segala kebaikan adalah engkau mengetahui bahwa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, sementara yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi." (Al Fawaid 127)❇

Covid 19 ini juga yang membuat hati bergegas untuk  mencari perlindungan. Perlindungan dari Yang Maha Pelindung. Dia mampu membuka mata manusia bahwa manusia hanyalah seorang hamba yang  rapuh sehingga karenanya hati menjadi khusyuk dan selalu ingin dekat denganNya. Bukankah ini sesuatu yang mahal?  

Musibah yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik daripada nikmat yang membuatmu lupa dari Allah. (Ibnu Taimiyah)

Karenanya sebelum pintu itu dibuka dan virus itu pergi mari kita buat rekaman akan kepedihan saat dia datang sekaligus rekaman bagaimana dengan kepedihan itu kita dituntun untuk mencari pelindungan. Pencarian yang membuat kita kembali meniti jalan-jalanNya.  

Kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah Covid 19 ini berakhir tapi kita telah tau jalan untuk kembali... 

Alhamdulillah 'ala kulli hal.



































2 komentar

  1. Karena covid pula ramadhan ini manusia udah terbelenggu duluan di rumah sebelum setan dibelenggu.

    Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita semua sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Mujibassailin. Jazakallahu khayra.

      Hapus