Masker Dan Kisah Di Baliknya

Jumat, 24 April 2020


Gambar oleh Gabrielle Lasser dari Pixabay


Bismillah.

Saya sudah pernah menuliskan tentang masker sebelum ini. Tulisan yang berawal dari rasa penasaran saya tentang kebijakan pelarangan pemakaian masker yang berubah secara diam-diam. Secara diam-diam maksud saya tidak ada pengumuman yang menganulir kebijakan sebelumnya yang melarang penggunaan masker bagi orang sehat. Yang ada adalah munculnya foto sosok pejabat berwenang yang sebelumnya mengeluarkan larangan--mengenakan masker bedah berwarna hijau tosca muda--berfoto bersama pejabat lainnya yang juga mengenakan masker bedah. Ya, itu adalah foto menteri kesehatan yang tampak menghadiri sebuah acara bersama menteri pertahanan dan keduanya sama-sama mengenakan masker. Masker Kemarin, Masker Hari ini itu judul tulisan saya


Masker Di Awal Pandemi


Masker saat ini telah memainkan peran penting dalam pencegahan virus Covid 19. Diawali dengan hilangnya pasokan barang tersebut di saluran penjualan pada awal-awal masuknya virus ini di banyak negara menjadikan banyak pemimpin negara gagap dalam menghadapinya. Apa yang terjadi di negara kita, terjadi pula di negara Paman Sam. Himbauan untuk tidak mengenakan masker bagi mereka yang sehat atau masker hanya untuk yang sakit telah mendapatkan respon sebaliknya. Himbauan ini sebenarnya bertujuan untuk melindungi pasokan masker dari kelangkaan. Berlanjut dengan ditemukannya penderita tanpa gejala yang berpotensi meningkatkan penularan virus, himbauan itu akhirnya berbalik menjadi himbauan untuk mengenakan masker tapi dengan tekanan untuk mengenakan yang berbahan kain. 


Dugaan Masker Sebagai Bagian Pencegahan Covid 19 Yang Potensial


Di Amerika Serikat pembicaraan yang diulang-ulang berkaitan penangan pemerintah dalam menanggulangi Corona atau Covid 19 ialah kealpaan mereka dalam mengambil pelajaran dari Korea, Jepang dan Hongkong. Mereka meyakini kurva korban serangan virus Covid 19 di negara-negara tersebut melandai salah satu penyebabnya yang potensial adalah pemakaian masker wajah di negara-negara tersebut telah menjadi bagian dari kultur masyarakat. Di banyak negara bagian Asia mengenakan masker wajah (bahkan mungkin sarung tangan juga) adalah hal yang mudah ditemui di kereta api, super market, bahkan saat hanya untuk berjalan keliling kota. Itu merupakan bagian dari penjagaan diri sendiri dan tentang menjaga orang lain. 
Sementara hal semacam itu di AS, bertemu orang yang mengenakan masker bedah di Whole Food, tentu akan membuat terkejut.  


Respon Akibat Kelangkaan Masker Di Beberapa Negara


Belajar dari Cina yang telah menimbun masker (dan APD) sejak mulai ditemukannya virus ini menyerang penduduk setempat maka beberapa negara telah memerintahkan industri garmen setempat untuk memproduksi masker. Di Amerika Serikat, sembilan perusahaan telah bekerja sama  dengan prioritas utama menghasilkan masker dengan target 10 juta seminggu selama sebulan. Perusahaan yang terlibat meliputi American Giant, Fruit of the Loom, Hanesbrands, Parkdale Inc., Los Angeles Apparel, AST Sportswear, American Knits, Beverly Knits dan Riegel Linen. Hal ini disampaikan oleh National Council of Textil Organization. 

Kering, sebuah kelompok perusahaan penyedia barang mewah (Gucci, Yves Saint Laurent, Balenciaga dll) mengimpor 3 juta masker wajah dari Cina yang akan dibagikan kepada otoritas kesehatan di Perancis. 

Dari negeri sendiri, sebagaimana diberitakan oleh media online, Kompas-Bandung, gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil bersama bupati Bogor, Ade Munawaroh Yasin telah meminta sebuah pabrik di Bandung untuk meningkatkan produksi masker dari 250 ribu per hari menjadi 1 juta per hari di akhir bulan ini. 


Masker Sebagai Berkah Di Balik Musibah

Foto Koleksi Irma Qinar , instagram @irmaqinarhijab



Merespon kebutuhan besar atas masker non medis sebagaimana himbauan WHO dan pemerintah, beberapa Umkm seperti mendapat angin segar. Usaha-usaha rumahan saat ini mendapat peluang dengan memproduksi masker berbahan kain.  Para ibu rumah tangga di sela-sela kesibukan rumah tangga pun menyempatkan untuk menghidupkan mesin jahit mereka dengan menjahit potongan kain katun aneka motif, warna, ukuran dan kualitas bahan. Disain yang dibuat pun beragam, bergantung pada selera dan kepiawian mereka membaca peluang pasar. Beberapa ada yang memanfaatkan bahan kaos ataupun scuba yang lebih elastis.

Seiring dengan meningkatnya permintaan maka perca kain maupun kain rol yang bisa digunakan untuk membuat masker pun mengalami kenaikan harga. Pun bahan penunjangnya seperti karet elastis. Mesin-mesin bekas milik usaha garment yang terpaksa gulung tikar karena merosotnya ekonomi pra pandemi pun diburu oleh mereka yang ingin memanfaatkan peluang baru ini. Inilah berkah di balik musibah itu.

Inovasi Masker (Kain)


Masker Katun Berlapis Perak



Immanuel Kant Baltic Federal University. Foto diambil dari instagram @karolinaaaai


Masker kain memiliki kelemahan berupa keterbatasan durasi penggunaannya. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid 19, Ahmad Yurianto menganjurkan pemakaian masker berbahan kain paling lama 4 jam dalam sehari. Melampaui itu maka masker harus dicuci dengan air sabun. Dengan keterbatasan penggunaan masker kain yang seperti itu dari Rusia didapat kabar bahwa para ilmuwan dari Immanuel Kant Baltic Federal menemukan masker kain penangkal virus Corona yang memiliki keistimewaan  bisa dipakai berhari-hari. Mereka menggunakan kain katun murah sebagai bahan namun melapisinya dengan perak yang sangat tipis.  

WHO tidak merekomendasikan secara umum masker tersebut bagi kalangan luas dikarenakan manfaat penggunaan perak belum melewati tes dan belum terbukti.

Tapi pihak Kaliningrad's Immanuel Kant Baltic University percaya bahwa teknik tersebut mampu memberikan perlindungan tambahan meski - sebagaimana masker sekali pakai - tidak menjamin perlindungan penuh dari virus.

"Dalam pandangan saya, kami bisa meningkatkan sedikit efisiensi aksesori ini, dan itu adalah aksesori bukan perangkat medis. Tapi kami percaya permukaan perak aktif bisa membunuh sejumlah virus." kata Aleksander Goyhman, Director  of  Nano-Material Centre Immanuel Kant Baltic Federal University. 





Masker Untuk Penyandang Tuna Rungu





Masker seperti ini mungkin sudah pernah Anda lihat. Masker ini tepat pada bagian bibirnya menggunakan bahan transparan agar gerakan bibir yang mengenakan dapat terbaca. 

Di Indonesia @www.dompetdhuafa.org menyebutkan bahwa kantor cabang mereka yang di Sulawesi Selatan saat ini sedang memproses produksi untuk penyandang disabilitas pendengaran. Mereka memberdayakan masyarakat sekitar dalam produksi masker jenis ini. Mereka mentargetkan untuk menghasilkan 6000 lembar masker yang akan dibagikan ke masyarakat luas dengan tidak menutup kemungkinan membagikannya hingga di luar provinsi Sulawesi Selatan.






Masker Dengan Teknologi Cetak 3D



Photo by Maker Mask


Seorang veteran teknologi dan "cendekiawan" pencetakan 3D telah bekerja sama dengan anggota industri, perawatan kesehatan dan pemerintah lainnya untuk meluncurkan Maker Mask, sebuah organisasi nirlaba di Seattle dalam menciptakan masker pelindung yang disetujui secara medis dan dapat dipakai ulang, menggunakan printer 3D sehari-hari.

Masker gaya respirator dengan filter HEPA yang dapat diganti dan bagian lain yang tersedia secara umum, dikembangkan oleh Roy Larson seorang ahli prototyping cepat dengan pengalaman 10 tahun di bidang teknik, CAD, pencetakan 3D, CNC dan pabrik produksi dengan skala produksi yang kecil (small batch). Hanya butuh seminggu untuk kelompok, bekerja dengan disain Larson dalam fasilitas produksi kecil dan hasilnya habis oleh jemaat  Ephipany di Seattle.

Maker Mask telah mendapatkan persetujuan dari NIH (National Institutes of Health). Persetujuan dari NIH ini diberikan untuk penggunaan oleh masyarakat umum. Maker Mask tidak memiliki persetujuan dari Food and Drug Administration atau lembaga terkait lainnya sebagai masker bedah atau respirator.  Set masker pertama saat ini sedang digunakan di Rumah Sakit Anak Seattle yang telah memberikan persetujuan medis sementara untuk digunakan oleh teknisi laboratorium yang memproses sampel.

Xuan Qin, profesor Laboratorium Kedokteran di University of Washington dan seorang ahli mikrobiologi klinis di Seattle Children's menyebutkan bahwa Maker Mask "dirancang dengan baik" dan "sangat berguna" untuk teknisi laboratorium yang memproses spesimen pasien untuk Covid 19. Qin mengawali penelitian klinis dan mengataka  masker itu akan "membantu mengatasi kekurangan alat perlindungan pribadi".


Dr. Xuan Qin in Maker Mask (Maker Mask Photo)












Sumber:

www.vogue.com

www.kontan.co.id

www.reuters.com

www.dompetdhuafa.org

www.geekwire.com

www.maskermask.com







Posting Komentar