Julyanidar, Cerdas Mengalir

By Yuniar Djafar - September 17, 2019

Foto: Koleksi Pribadi, Julyanidar


Bismillah. Saya dulu lebih sering menggunakan kosa kata wanita dari pada perempuan. Lembaga-lembaga resmi pemerintahan juga menggunakan kosa kata wanita untuk menyebutkan lawan dari lelaki ini. Menteri peranan urusan wanita, Dharma Wanita adalah contohnya. Kata wanita dianggap lebih "sopan" dari pada perempuan waktu itu. Meski dalam bahasa Indonesia tidak dikenal tingkatan kehalusan bahasa sebagaimana yang ada dalam bahasa Jawa, tapi tidak bisa dipungkiri makna rasa yang menjadi perasaan kolektif masyarakat pada masa itu adalah bahwa kata wanita terasa lebih "halus", lebih sopan dibandingkan kata perempuan.  Tapi kemudian hal itu berubah saat saya mulai menginjak bangku SMA hinggga perguruan tinggi. Itu adalah kurun waktu saya mulai mengenal artikel-artikel feminisme yang mengusung persamaan hak wanita, demikian istilahnya pada waktu itu. Dalam kurun waktu itu saya menemukan sebuah artikel yang menjelaskan akar kata masing-masing kata tersebut, wanita dan perempuan. Dari yang saya baca itu akhirnya saya memutuskan untuk mengutamakan pengunaan kosa kata perempuan dari pada wanita. Yang mempengaruhi saya adalah penjelasan bahwa akar kata perempuan ternyata adalah empu. Empu dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indoneisa) berarti 1. gelar kehormatan 2. orang yang sangat ahli (terutama dalam membuat keris). Secara verba empu berarti 1. menghormati atau memuliakan 2. mengasuh, membimbing. Tapi ternyata saat saya googling lagi saya temukan penyanggahan tentang hal tersebut. Dan sanggahan tersebut memiliki dasar nalar yang bisa diterima menurut saya. Hmm... Akhirnya saya berpikir cukuplah, saya tidak akan lagi sibuk mengikuti perdebatan tentang itu. Menjalankan fungsi sebagai perempuan shalihah, sebagai wanita shalihah adalah lebih bermanfaat. Fokus di situ saja. 

Peranan seorang perempuan, wanita dewasa setelah menikah di manakah? Jawabannya bisa beragam. Mau sebut dengan silang sengkerut bisa saja, dan mudah untuk menemukan silang sengkerutnya. Tapi kalau mau jawaban yang smooth, beralun, mengalir tenang juga akan lebih dapat ditemukan. Jawaban tipe terakhir bisa saya temukan dari seorang ummahat, seorang ibu yang tinggal di Medan, Julyanidar namanya. 

Tengok yang ditulisnya di www.julyanidar.com. Katanya, "Setelah menikah barulah saya tersadar. Semua dunia kerja terhenti karena tidak mendapat lampu hijau suami."

Wanita yang realistis dan cerdas, menurut saya. Karena dia tahu keberadaannya yang paling utama adalah sebagai seorang hamba. "Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu." Q.S adz Dzariyat ((51); 56. Dan seorang hamba dari Rabb semesta alam sesungguhnya adalah seseorang yang sudah mencapai pembebasan. Tidak ada lagi kebingungan dan keraguan dalam bertindak karena ini yang jadi pegangannya, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hiupku dan matiku hanyalah untuk Rabb semesta alam." Q.S Al An'aam; 164.
Jika sudah demikian maka tidak kesulitan baginya untuk menerima dan menjalankan perintah, "Dan laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita." Q.S An Nisa (4); 34. Itulah kecerdasan seorang Julyanidar, memilih untuk mengikuti ketetapan pemimpinnya, suaminya.

Menjalani peran sebagai seorang Ibu adalah hal yang membahagiakannya. Di awal penikahan saat belum dikaruniai buah hati adalah hal yang membuatnya jenuh. Terbiasa sibuk dalam dunia kerja membuatnya merasakan itu. Tapi Allah tak lama mengujinya dengan keadaan itu hingga akhirnya setelah 1.5 tahun masa penantian itu pun berujung, "Di pernikahan yang ke 1.5 barulah saya mempunyai kegiatan baru yang menyenangkan. Momong anak. Hehe," katanya.


Momong anak adalah hal yang menyenangkan baginya. Kalau kita baca-baca postingannya di blognya mau pun di instagramnya, nyaris semuanya berisikan pembahasan tentang tips dan trik dalam momong dan membesarkan anak. Bahkan nyaris blognya full membahas hal tersebut. Tapi tak dinyana ternyata ibu muda ini juga piawai dalam menyusun kata, mengguratkan rasa dalam bentuk puisi. Dan salah satu puisinya berhasil masuk menjadi bagian dari 70 antologi puisi motivasi yang diterbitkan oleh Diandra Creative Self Publishing, Bogor, judulnya Satu Duniaku. Puisi itu mencerminkan nilai dan harkat seorang ibu di matanya. Ibu, yang dalam puisi itu menggunakan personifikasi Emak bagi sang penulis maknanya adalah dunia. Emak pulalah yang menjadi alasan hidupnya. 


Foto: Koleksi Pribadi Julyanidar


Dan saat ditanya tentang tolok ukur kesuksesan seorang Ibu Jul pun menjawab, "Saya merasa sukses  kalau anak nantinya menjadi seperti apa yang dicita-citakannya tetapi harus sesuai dengan jalur yang diperbolehkan agama. Saling akur sesama saudara kelak ketika dewasa"

Mungkin inilah salah satu perwujudan sambil menyelam minum air itu. Julyanidar dalam mengembangkan diri agar bisa menjadi ibu yang sukses aktif mengikuti banyak komunitas yang mendukung. Kampung Dongeng, Komunitas Menulis Online dan Blogger Mom Community adalah komunitas yang diikutinya. Tulis menulis memang telah menjadi bagian dari hidupnya. Menjadi Penulis adalah hal yang dicita-citakannya ketika SMP. Meski berubah kemudian saat SMA dan berubah lagi... Tapi saat ini menulis mampu menariknya kembali dan membuatnya menekuni dunia blogging, mengelola akun FB dan Twitter Hasilnya selain pengalaman dan ilmu diperoleh dia pun bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Bahkan saat ini dia pun didaulat menjadi bagian dari kelompok mombassador sebuah brand susu anak. Cerdas, kan?

Hidup adalah sebuah siklus yang berulang. Setiap rumah tangga pada masanya akan memasuki fase petarangan kosong lagi. Fase saat anak-anak telah beranjak dewasa dan mandiri. Pada fase itu cita-citanya adalah traveling bersama suami sembari mengontrol bisnis dalam bidang kuliner yang diidam-idamkannya. Ah, cita-cita yang sempurna dari bunda yang cerdas. 

Allahuma yassirlaha. 




























  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Wah.. Tulisannya bagus banget bunda. Doakan semua lancar dan segala keinginan kita tercapai ya bun.

    BalasHapus