Repetition

By Yuniar Djafar - Agustus 04, 2019

Foto: www.pixabay.com


Yang diulang lagi dan lagi.

Ini cerita lama saat mendiang Nenek saya masih hidup. 
Saya mengawali usaha dari rumah. Karenanya dulu tempat tinggal saya pun merangkap sebagai workshop. Setiap pagi, pukul 07.30 wib., dua orang teman yang merupakan partner kerja dan dua orang karyawan saya sudah mulai berdatangan. Ada yang gembira pada setiap pagi seperti itu, mendiang Mbah Putri, Nenek saya. 

Jam segitu Nenek sudah rapi dan bersiap sarapan pagi sebetulnya. Tapi bila melihat mereka mulai berdatangan beliau akan menunda sarapan untuk menyambut mereka. Mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar mereka dan keluarga lalu dilanjutkan dengan menjelaskan "about me", cerita tentang kegiatan beliau pagi itu dan seterusnya akan berlanjut pada cerita tentang masa muda beliau dulu. Sungguh di awal saya merasa tidak enak kepada mereka tapi dengan berjalannya waktu mereka akhirnya terbiasa dan sudah memahami hal tersebut. Bahkan mereka pun kadang menimpanya dengan candaan yang membuat Nenek tertawa. Tapi saya tahu ada kalanya mereka tidak bisa terus menerus bersikap begitu karena berbagai hal. Saya tidak menyalahkan mereka tapi bersukurnya  se"bete-betenya" mereka sikap mereka tetap baik terhadap Nenek yang saat itu berusia 90 tahun. Hal seperti itu berlangsung rutin setiap pagi, setiap hari kecuali Ahad atau hari besar. 

Salah satu penyebab anggota keluarga yang lebih muda enggan mendekat kepada kakek/nenek bahkan orang tua  yang telah memasuki usia lanjut salah satunya adalah seringnya para orang sepuh itu mengulang-ulang pembicaraan. Dan yang mereka ulang-ulang biasanya cerita lama atau pengalaman mereka saat masih muda. Bisa cerita yang mengguratkan kesedihan, atau sebaliknya yaitu tentang kesuksesan mereka. Tapi ada kalanya mereka juga mengulang-ulang sebuah informasi (kekinian) yang menjadi perhatian mereka. Atau mengulang-ulang pertanyaan yang sama dalam kurun waktu yang pendek. Pengulangan seperti ini akan bertambah kerap dengan bertambahnya usia.

Sejujurnya menghadapi hal seperti itu bukan perkara yang mudah. Aah, saya jadi ingat dengan ungkapan seorang Ibu bisa merawat 10 orang anak tetapi seorang anak belum tentu mampu merawat seorang Ibu. Itu benar. Tapi masalahnya adalah apakah kita akan membiarkan orang tua kita hanya karena "ketidak mampuan" kita?

Mengulang-ulang cerita adalah bagian dari keinginan mereka untuk berbagi perasaan atas hal-hal yang mengesankan mereka. Dari proses ini mereka ingin didengar dan diperhatikan. Mereka ingin memastikan bahwa diri mereka cukup berharga setelah orang-orang yang mungkin bersama-sama mereka saat itu terjadi sudah terpisahkan oleh masa, karena sebagian dari mereka sudah meninggal atau dalam keadaan yang tak mungkin mereka temui lagi. 

Sedih bukan andai kita berada dalam posisi mereka, terpisah oleh masa yang sudah tidak mungkin kembali lagi sedang mereka sudah tidak mampu membangun hubungan baru karena kemunduran fisik dan psikhis?

Tentang ingatan (Memori)

Mengulang-ulang cerita bisa juga disebabkan karena orang lanjut usia lebih sering lupa dengan siapa dia telah berbagi informasi. 

Memori (Ingatan) dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Sumber Memori, berkaitan dengan dari siapa Anda memperoleh informasi yang menjadi ingatan Anda.

2. Memori Tujuan. Memori Tujuan adalah ingatan tentang siapa saja yang telah menerima informasi dari Anda atau kepada siapa Anda telah berbagi informasi. 

Pada sebuah penelitian tentang kedua jenis memori tersebut di atas diketahui bahwa orang lanjut usia memiliki Memori Tujuan yang buruk dibanding orang dewasa yang lebih muda. Selain itu mereka (orang lanjut usia) juga sangat percaya diri atas Memori Tujuan mereka, kata Nigel Gopie, seorang ilmuwan kognitif di Rotman Research Institute di Toronto.  Artinya ketika mereka menyampaikan pengulangan mereka selalu merasa sangat yakin bahwa mereka, tidak (belum) pernah membagikan informasi (pengulangan) tersebut kepada siapa pun. 


Apa yang harus kita lakukan?

Menurut saya upaya yang bersifat spiritual-mental adalah basic dari upaya-upaya yang bersifat "teknis". 

Kembali kepada Allah adalah yang pertama. Ingatlah akan pintu surga bagian tengah yang disediakanNya. Ingat pula kerugian bila kita mengabaikannya. 

Mencoba untuk menumbuhkan empati adalah hal yang penting bagi kita menghadapi situasi ini. Cara kita memperlakukan orang tua sesungguhnya akan menjadi "rujukan tindakan" bagi anak-cucu kita kelak dalam merawat kita jika kita sampai pada usia lanjut sebagaimana orang tua kita saat ini.

Menggali kenangan akan jasa dan pengorbanan serta kasih sayang orang tua saat melahirkan, membesarkan, mendidik kita in sya Allah akan membantu kita bersabar dalam menghadapi mereka.

Meskipun perilaku mengulang-ulang cerita bukan berarti orang tua terkena serangan Demensia tapi yang ditulis Carol Bradley Bursack sangat relevan.  
Pada situs agingcare.com dia merekomendasikan 3 teknik untuk Menangani  Pengulangan Ditambah Dengan Perilaku Demensia.

1. Validasi. 
Pada teknik ini kita melibatkan diri dengan situasi orang tua seolah-olah kita memiliki pandangan yang sama atau berada pada situasi yang sama dengan mereka. Intinya kita "iya-kan" apa pun yang mereka sampaikan. Tidak perlu melakukan penyangkalan. Jika cerita yang disampaikannya adalah tentang kekhawatirannya maka sampaikan padanya hal-hal yang dapat membuatnya tenang dalam menghadapi situasi yang dikhawatirkannya tersebut. 

2. Pengalihan.
Pada teknik ini kita coba alihkan perhatian mereka pada hal lain. Ajak mereka bicarakan hal lain dengan topik yang berbeda dari yang mereka ulang-ulang. Tujuannya agar mereka bisa melihat ada hal lain yang tak kalah menariknya. Tunjukkan bagaimana cucu mereka telah mengerjakan sesuatu yang menyenangkan. Atau ceritakan bahwa salah seorang temannya juga berhasil melakukan kegiatan yang baru. Lakukan apa saja yang dapat menarik perhatian mereka dan mengubah topik pembicaraan. 

3. Mengarahkan.
Teknik Pengalihan kadang tidak cukup efektif sehingga ada baiknya kita arahkan mereka pada kegiatan berbeda. Intinya adalah memberikan pilihan baru untuk memutus lingkaran yang selama ini membuat mereka mengulang-ulang pembicaraan mereka. Dengan menemukan kegiatan baru diharapkan mereka memiliki fokus baru. Mengajak mereka untuk mengerjakan kerajinan tangan atau melihat album foto lama mereka adalah beberapa contoh  kegiatan untuk mendapatkan fokus baru.

Last but not least, ketiga teknik tersebut bukan untuk memutuskan mereka dari dunia mereka dengan keterbatasan mereka itu. Melainkan hanya untuk membuat mereka memiliki variasi saat berkegiatan sehingga kita pun demikian, menjadi sedikit lebih berwarna dalam menemani atau merawat mereka. 

Menemani atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia memang sebuah proses yang tidak pernah pendek. Karenanya bisa dipahami andai ada teknik atau pendekatan apa pun berasa tidak bisa meredam kita dari rasa lelah (terutama lelah psikhis). Jika ini terjadi maka "mengambil jarak" untuk beberapa saat sangat dibutuhkan. Selama itu kita bisa tumpahkan segala rasa lelah dengan curhat melalui shalat, berdoa atau dzikir. Mintalah bantuan seseorang untuk menggantikan Anda dalam menemani orang tua untuk sementara. Dan manfaatkan hal tersebut untuk berada pada tempat yang berbeda atau situasi yang berbeda, menemui orang-orang yang berbeda. Itu akan membuat kita bisa lebih fresh saat harus kembali berada di sisi orang tua.

Semoga Allah mudahkan.











  • Share:

You Might Also Like

0 komentar