Rini Oktavia, The Unstoppable

By Yuniar Djafar - Agustus 15, 2019




"Assalaamu'alaykum," sapa saya. Siang itu saya menyapanya.

"Wa'alaykumussalam," jawabnya. 

Via, demikian saya memanggilnya. Familiar saja rasanya dengan nama ini meski saya belum pernah kontak sebelumnya. Belakangan baru saya ingat kalau keponakan saya yang di Depok panggilannya juga Vya. Beda satu huruf Vya dan Via... Tapi di benak saya keduanya tidak berbeda.

Sebetulnya sebelum saya menyapa dia siang  itu saya sempat take a glance at biodatanya di grup Whatssapp. Di situ dia menulis jika Viarinzeani adalah nama pena. Hmm, nama pena? Nama pena yang rumit, gumam saya dalam hati. Saya memang tidak pernah bisa dengan mudah menyebut nama itu. Belibet rasanya. Saya selalu mengingatnya sebagai Vianrezani. Sejujurnya itulah alasan saya saat memutuskan memanggilnya Via tanpa meminta persetujuannya terlebih dulu. Hahaha...

Kesibukan lain membuat saya tidak bisa menuntaskan membaca bio-nya dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya... 😄. 
Tapi itu tidak berlangsung lama. Sejurus kemudian saya sudah kembali menatap layar ponsel. Urutan huruf yang berjajar mulai dari baris atas saya baca lagi.  Saya bersukur saat  tau kalau panggilan Via tetap bisa dipakai untuk nama aslinya, Rini Oktavia. Saya merasa sudah berada di jalan yang benar. Hahaha...

Mata saya terbelalak saat membaca lanjutan biodatanya. Luar biasa banyak prestasi yang telah direngkuhnya. Tapi jika dikelompokkan prestasinya berpijak pada dua garis besar, kepenulisan dan kewirausahaan/bisnis. Saat diminta untuk memberi poin 1 -10 untuk kedua bidang itu dia mengetik angka 9 untuk kepenulisan dan 10 untuk kewirausahaan atau bisnis. 

Supik yang menyelesaikan strata satu-nya tahun 2018 ini memang beberapa kali memenangi lomba yang berkaitan dengan bisnis. Lulusan Fakultas Pertanian, Jurusan Agribisnis Universitas Jambi ini dalam kurun waktu 2016 - 2018 meraih 4 penghargaan bersama tim bisnis kampusnya saat masih di bangku kuliah. Dari situlah dia dapatkan pengalaman bisnisnya. 

Mengelola lahan seluas 0.5 hektar untuk budi daya buah naga merupakan pengalaman bisnis pertamanya. Dari pengalaman itu Via memiliki mimpi untuk memiliki perusahaan di bidang pertanian. Dari on-farm sampai off-farm, istilahnya. Dari penanaman sampai pengolahannya dikerjakan oleh perusahaannya. 

"Tapi saya tau itu tidak mudah. Jadi saya mau lebih spesifik ke bagian olahan karena memang lebih mengikuti perkembangan zaman yang lebih instan." terangnya. 

"Apakah masih jalan hingga saat ini?" tanya saya.

"Masih. Kalau mau lihat foto-fotonya bisa cek di instagram: @sangkarnaga. Ig-nya memang gak terlalu aktif soalnya penjualannya konvensional. Tapi kalau mau foto-fotonya bilang aja, ya" jawabnya diakhiri dengan emoticon kepala gundul tersenyum.


(Tapi saya tidak bilang-bilang karena saya tidak mau foto-fotonya. Yang saya mau itu buahnya. Kalau foto buat apa?  Hahaha...)

Dalam kepenulisan Rini Oktavia mengawali prestasinya saat kelas 3 Madrasah Aliyah. Lomba menulis cerpen yang diikutinya  mengantarkannya pada pengalaman pertamanya menjadi kontributor sebuah antologi. Dan dari sini pula awal perjalanan hidupnya memakai nama pena. Alasannya?

"Nah, waktu itu lagi booming banget nama pena. Jadinya saya ingin pakai juga. Alasan lainnya saya tak ingin orang tau saat membaca karya saya bahwa sayalah penulisnya. Saya hanya ingin tulisan saya bermanfaat sehingga orang lain bisa mengambil hikmah darinya. Jadi terasa lebih ikhlas buat saya."
   
Kedekatannya dengan sang Ibu yang selalu mengingatkannya untuk selalu mensukuri yang ada, menekankan hidup sederhana dan menjauhkan dari keinginan duniawi yang tak ada habisnya membuatnya selalu berupaya menjaga keikhlasan dalam berkarya. 

"Ibu saya adalah motivasi saya untuk semua yang saya lakukan. Saya berusaha menjadi orang baik, berpestasi, gak nakal, semuanya agar Ibu saya bangga melahirkan saya."

"Kalau dari Ayah bagaimana?"

"Ayah saya memang suka membaca, apalagi koran," katanya. "Terus beliau juga suka pinjam buku di Perpustakaan Daerah. Jadinya saya ikut-ikutan pinjam buku."

"Selain mereka siapa lagi yang turut berpengaruh dalam kehidupan Via?"

"Kakak perempuan saya," tegasnya. "Kakak adalah orang ke dua yang mewarnai saya dengan nasihat-nasihatnya. Dia yang selalu mendukung mimpi-mimpi saya dan menjadi teman diskusi saya."

Dengan dukungan yang seperti itu kini Via menjadi the unstoppable dalam dua dunia. Dunia bisnis dan tulis-menulis. Dalam dunia bisnis mimpi-mimpinya telah mulai dia rajut. Dalam dunia tulis menulis bakatnya semakin melesat. 





Tercatat sudah ada 7 cerpennya yang masuk dalam berbagai antologi cerita pendek. Dan itu sepertinya akan terus bertambah. Dia ingin suatu saat bisa menjadi penulis novel Islami yang best seller sekaligus professional blogger. Melihat sepak terjangnya beserta dukungan keluarga  sepertinya jalan telah terbuka lebar baginya. 

Silakan tengok blognya yang beralamat di http://www.viarinzeani.com. Gaya penulisannya mengalir, runut dan tidak memaksakan diri. Kalimat demi kalimat terbaca bersahaja, apa adanya namun enak dibaca hingga tuntas. Semua topik bahasan bisa disajikannya dengan gaya seperti itu. Dan kemarin, 14 Agustus 2019, pengagum Tere Liye ini sedang berbunga-bunga karena tulisannya saat traveling ke pantai Bokori, Sulawesi Tenggara dimuat oleh detik travel. Selamat, ya, Via!

Jika tulisan adalah tarian maka Via adalah penari yang setiap gerakannya adalah tarian. Andai pun saat dia hanya sekedar menjentikkan jemarinya. Saya temukan hal ini pada instagramnya, https://www.instagram.com/viarinzeani. Caption yang ditulisnya selalu berhasil menghidupkan foto-foto yang diunggahnya.  



Foto: Instagram, viarinzeani



Bukan soal bagaimana caranya menemukan dirimu.


Bukan juga soal bagaimana mengenali dirimu.

Tapi bagaimana caranya membentuk dirimu.

Pribadimu sudah lama engkau temukan.

Tapi pribadi yang kau inginkan harus dibentuk dengan ketekunan.

❦ ❦ ❦


Hmm, betul, kan kata saya? 








 









  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. masyaAllah tulisan mba keren banget inih. Terharu... Barakallah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih keren lagi yang jadi topik bahasan. Sukses selalu buat Via. Wabarakallahu fiik.

      Hapus