Terpaksa, Memang Masalah? Tidak, Terpaksa Tidak Selalu Berarti Masalah. Ini Penjelasannya.

By Yuniar Djafar - Agustus 09, 2020

 

- Foto dari Pixabay -


Bismillah.

Positioning kata terpaksa

Saya tidak tau reaksi kalian jika mendengar kata "terpaksa". Tapi saya menduga akan lebih banyak yang menerimanya dengan konotasi negatif daripada positif. Bukan menuduh, ya... Tapi karena memang kata yang berakar dari kata "paksa" ini lebih sering muncul dengan kalimat semacam: terpaksa mencuri, terpaksa berdusta, terpaksa menikah, terpaksa pergi, terpaksa mengaku... 

Rasa-rasanya dengan kata apa pun dia bersanding maka semuanya akan masuk dalam situasi buruk. 

Contohnya, menikah. Menikah merupakan impian bagi sepasang lelaki dan wanita yang saling mencinta. Tapi bila menikahnya disandingkan dengan kata terpaksa maka menikah menjadi sesuatu yang menyiksa. Terpaksa menikah... Hmm...

Dalam contoh yang lain, mencuri. Mencuri adalah perbuatan jelek. Tapi dengan kata terpaksa, yaitu terpaksa mencuri maka tetap saja hal tersebut bermakna jelek meski di balik itu masih tersirat makna "mending", dalam artian masih mending mencurinya karena terpaksa daripada mencuri karena kemauan sendiri. Tapi tetep saja jelek, bukan? Secara umum "terpaksa" memang memiliki positioning yang jelek di dalam benak kita.

- Photo by Andrew Neel on Unsplash -

Terpaksa itu masalah hati

Terpaksa berarti tidak tumbuh dari hati yang rela atau hati yang ikhlas. Dan itu pasti tidak nyaman bahkan membuat menderita.

Masalahnya hati tidak selalu menghadirkan dorongan yang baik. Hati adakalanya mendorong pada perbuatan buruk. Orang bilang itu hawa nafsu. 

Mari simak penjelasan tentang hawa nafsu.

Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya. (Asbabut Takhallaus minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 3).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan. Maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya." (Jami'ul Uluum wal Hikam: 2;399).

Jadi sebenarnya hawa nafsu itu tidak melulu bermakna negatif. Hawa nafsu bisa juga bermakna positif. Namun keinginan manusia seringkali menyelisihi kebenaran yang diatur oleh syariat Allah. Hawa nafsu yang demikian berasal dari hati yang sakit atau bahkan hati yang mati.

Allah berfirman, "Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kami menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al-Baqarah [2], ayat 216).

Hati memiliki tiga keadaan, yaitu:

1. Hati yang sehat (Hati yang selamat dari penyakit)

2. Hati yang sakit

3. Hati yang mati

Ketiga hal di atas disebutkan Allah dalam Q.S Al-Hajj; 52-54 sebagai berikut,"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.  Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit (hati yang sakit) dan yang mati hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang yang telah diberi ilmu (yang punya hati yang sehat), meyakini bahwasanya Al-Qur'an itulah yang haq dari Rabb-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Q.S Al-Hajj [22]; 52-54).

Dalam ayat tersebut disebutkan tiga macam hati, yaitu dua hati yang terkena fitnah dan satu hati yang selamat. Hati yang terkena fitnah adalah hati yang sakit dan hati yang mati. Sedangkan hati yang selamat adalah hati orang yang beriman yang selalu tunduk dan patuh pada Rabb-nya.

- Photo by Afiq Fatah on Unsplash -

Terpaksa dan ketaatan kepada Allah

Untuk menghadapi hati yang terkena fitnah, yaitu, hati sakit dan hati mati kita diperintahkan untuk melawan godaan-godaan yang dimasukkan oleh syaitan dengan melawannya. Sehingga bisa jadi kita tunduk dan patuh kepada Allah bukan karena sukarela, melainkan karena terpaksa. Terpaksa karena takut akan siksa-Nya, ancaman-Nya.

"Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang  di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya (baik) dengan sukarela maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan." (Q.S Ali 'Imran [3]; 83).

"Allah Subhanau wa Ta'ala menyebutkan ketundukan benda-benda secara sukarela dan terpaksa karena seluruh makhluk wajib beribadah kepada-Nya dengan penghambaan yang umum, tidak peduli apakah ia mengakui-Nya atau mengingkari-Nya. Mereka semua tunduk dan diatur. Mereka patuh dan pasrah kepada-Nya secara sukarela maupun terpaksa." (Majmu Fatawa, X, hal. 200).

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari." (Q.S An-Nahl [16]; 48).

Terpaksa karena takut kepada Allah adalah jalan ketaaatan karena kita memang diperintahkan untuk takut (hanya) kepada-Nya.

"Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit." (Q.S Al- Maidah [5]; 44)

"Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kamu kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Q.S Ali 'Imran [3 ]; 175).

Bagi mereka yang takut kepada-Nya, Allah menjanjikan sebagaimana berikut,

"Orang yang takut kepada Allah akan mendapatkan dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kedua syurga itu mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan." (Q.S Ar-Rahman [55]; 46-48).

Na, benar, kan..., jika terpaksa itu tidak masalah? Ya, terpaksa memang tidak masalah jika terpaksa itu untuk jalankan ketaatan kepada-Nya. Semoga ketaatan yang berawal dari terpaksa akan membuahkan ridla. Ridla Allah kepada kita dan ridla kita kepada-Nya.

"Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla kepada mereka dan mereka ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Q.S Al-Bayyinah [98] ; 8)


Wallahu 'alam.





Sumber:

https://muslim.or.id/24461-hawa-nafsu-lawan-atau-kawan.html

https://almanhaj.or.id/6050-pembagian-hati-sehat-sakit-dan-mati.html

https://almanhaj.or.id/4195-takut-kepada-allah-subhanahu-wa-taala-dan-pengaruhnya-dalam-kehidupan-seorang-muslim.html

https://rumaysho.com/3178-hati-yang-sehat.html










 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar