Khianat Itu Menyakitkan Tidak Hanya Bagi Yang Dikhianati.

By Yuniar Djafar - Agustus 17, 2020

 

- Foto oleh Inzmam Khan dari Pexels -

Bismillah.

Dikhianati memang sedih, sakit!

Menikam dari belakang, menggunting dalam lipatan, musuh dalam selimut adalah istilah untuk perbuatan khianat.

Pengkhianatan selalu menghadirkan rasa getir dan pedih di hati bahkan hingga pada relung yang paling dalam. Dikhianati bisa memunculkan bara api yang tak pernah padam meski bilangan hari telah berlalu dalam tumpukan waktu. Menyakitkan!

Tentang pengkhianatan tidak hanya terjadi dalam cerita roman percintaan lelaki dan perempuan. Dalam sejarah kehidupan dengan skala yang lebih besar, yaitu perjuangan kemerdekaan suatu bangsa, pengkhianatan bisa melahirkan penderitaan ribuan bahkan jutaan manusia. Dan yang terbaru adalah pengkhianatan para pemimpin pemerintahan Uni Arab Emirat terhadap perjuangan saudara-saudara kita di Palestina.

Kepedihan karena pengkhianatan sulit untuk disembunyikan meski kita berusaha untuk tegar bahkan saat digoreskan dalam sebuah puisi. Seperti yang dituliskan oleh budayawan dan sastrawan Taufik Ismail berikut:


Khianat adalah salah satu ciri kemunafikan. 

Dalam Q.S Al-Baqarah (2); 14:

"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka berkata, "Kami telah beriman" Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok."

Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullahu shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

"Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanah, khianat." HR. Muslim, no 59.

"Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui." Q.S Al-Anfal (8); 27.

Yang berbahaya adalah pemikiran bahwa pengkhianatan mereka untuk kebaikan. 

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia hal ini terjadi pada peperangan yang dipimpin oleh Tjoet Njak Dien. Wanita pejuang dari Aceh itu ditangkap setelah Panglaot Ali dan pasukannya melapor kepada Belanda tentang keberadaan mereka. Panglaot Ali yang merupakan pasukan dari Tjoet Njak Dien merasa tidak tega melihat keadaan Tjoet Njak Dien yang semakin renta dan matanya mulai rabun. Melaporlah dia kepada Belanda yang akhirnya menangkap dan membuang Tjoet Njak Dien ke Sumedang pada akhir 1906.

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul perkataan keji, kebiasaan berkata keji, memutuskan kerabat, keburukan bertetangga, dan sehingga orang yang khianat diberi amanah (kepercayaan) dan orang yang amanah dianggap berkhianat. HR. Ahmad n0.6514 dari Radliyallahu 'anhu. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dan Syiakh Syu'aib Al-Arnauth rahimahullah.

Apakah khianat itu?

Al Munawi rahimahullah berkata, "Khianat adalah menyia-nyiakan amanah. Ada yang mengatakan khianat adalah menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian secara rahasia." (At-Taufiq hal. 162).

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Khianat adalah curang dan menyembunyikan sesuatu." (Al-Jami' lil Ahkamil Qur'an' 7/395).

 Al-Jahiz berkata, "Khianat adalah melanggar sesuatu yang diamanahkan orang kepadanya, berupa harta, kehormatan, kemuliaan dan mengambil milik orang yang dititipkan dan mengingkari orang yang menitipkan. Termasuk khianat juga adalah tidak menyebarkan berita yang seharusnya disebarkan. Mengubah surat-surat (tulisan-tulisan) jika dia mengurusinya dan mengubah dari maksud-maksudnya." (Tadzibul Akhlaq, hal. 31).

Mengapa seseorang berkhianat?

Dari Anas radliyallahu 'anhu, dia berkata, "Nabiyullahu shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada iman bagi seseorang yang tidak memiliki (sifat) amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya." (HR. Ahmad no. 12383, 12567, 13199; Ibnu Hibban no. 194. Hadits ini dihukumi hasan oleh Syaih Syuaib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad dan dihukumi shahih oleh Syaikh Al-Abani di dalam Shahih Jami'ush Shaghir no. 1779).

Macam-macam khianat

1. Khianat bisa berkaitan dengan hak Allah Azza wa Jalla.
Menjalankan kewajiban agama merupakan amanah bagi hamba Allah Azza wa Jalla.

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung namun semuanya enggan memikul amanat itu dan semuanya khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab/33; 72).

2. Khianat berkaitan dengan urusan manusia.
Sebagaimana disebutkan oleh Al-Jahiz di atas:

Al-Jahiz berkata, "Khianat adalah melanggar sesuatu yang diamanahkan orang kepadanya, berupa harta, kehormatan, kemuliaan dan mengambil milik orang yang dititipkan dan mengingkari orang yang menitipkan. Termasuk khianat juga adalah tidak menyebarkan berita yang seharusnya disebarkan. Mengubah surat-surat (tulisan-tulisan) jika dia mengurusinya dan mengubah dari maksud-maksudnya." (Tadzibul Akhlaq, hal. 31). 

Ancaman untuk para pengkhianat

Para pengkhianat diancam siksa neraka.

Ketika menjelaskan calon-calon penghuni neraka, antara lain Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pengkhianat orang yang tidak samar sifat tamaknya, walaupun sesuatu yang kecil dia selalu berbuat khianat." (HR. Muslim no. 2685, dari 'Iyadh bin Himar Al-Mujaasi'iy).

Semoga Allah karuniakan kekuatan iman yang menjauhkan kita dari khianat. Di dunia mungkin pengkhianat masih bisa merasa "aman" tapi tidak di akhirat nanti. Menyakitkan!

Wallahu 'alam.








Sumber:

https://inspiretly.wordpress.com/2018/04/25/memang-selalu-demikian-hadi/

rumaysho.com/25293-lima-ciri-munafik-hadits-jamiul-ulum-wal-hikam-48.html

https://almanhaj.or.id/8226-khianat-dosa-besar-tanda-hari-kiamat.html




  • Share:

You Might Also Like

0 komentar