MENGENALKAN TUHAN TANPA RASA TAKUT, MUNGKINKAH?

Foto: Porapak Apichodilok dari www.pexels.com

Bismillah. 

Ini pengalaman pribadi saya. Tentang pencarian saya dalam mengikuti sebuah ide atau konsep yang saya dapatkan dari sebuah artikel. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menarik sekali. Saya ingat, saya membaca artikel itu dari koran  Republika (lama, saya lupa tahunnya). Isinya adalah bahasan tentang ide mengenalkan Tuhan kepada anak-anak tanpa rasa takut. Jadi begini sederhananya, mengenalkan Tuhan kepada anak-anak itu jangan pakai cara-cara  yang membuat anak takut supaya anak-anak itu mendekat kepada Tuhan bukan karena rasa takut melainkan karena kasih-sayang. Semacam itulah ringkasnya. Menarik, bukan? 

Dunia anak-anak selalu menarik perhatian saya. Itulah sebabnya saat saya aktif di sebuah organisasi Remaja Masjid saya duduk sebagai salah satu pengurus yang membidangi pembinaan anak-anak. Artikel itu berhasil membuat saya ingin tau lebih jauh penerapannya berkaitan dengan tugas saya itu. Selain itu ide itu mengingatkan saya pada pengalaman masa kecil saya saat belajar mengaji. 

Saya belajar mengaji ketika usia sekitaran kelas 2 atau 3 sekolah dasar. Bapak saya memilihkan tempat belajar mengaji yang luar biasa (sadarnya setelah tua tentang ini). Ya, tempat mengaji saya saat masih anak-anak adalah sebuah lembaga pendidikan mengaji yang cara pengajarannya berbeda dari tempat-tempat mengaji sejenisnya pada waktu itu. Saya mengaji di situ tidak diajari mengenal huruf hijaiyah satu demi satu berikut harokatnya. Saya tidak mengenal alif fatha a, alif kasro i, alif dhoma u..., a, i, u. Tapi kami langsung diajar untuk menghafat surat-surat pendek. Ya, penekanannya pada hafalan namun hafalan tersebut selalu diawali dengan penjelasan arti dari ayat per ayat terlebih dahulu. Selalu begitu sampai kami paham makna surat tersebut. Setelah itu baru menghafal. Karenanya ketika kami hafal sebuah surat maka kami tahu surat itu tentang apa. 

Jadi saat sampai pada penjelasan surat al Qori'ah yang menerangkan tentang hari kiamat saya selalu merasa takut. Saat membaca ayat demi ayat yang ditulis di papan tulis oleh guru ngaji saya, badan saya seperti panas dingin. Cuma saya tidak bilang-bilang. Memang yang dihafalkan bukan terjemahannya, tapi mungkin karena masih kecil ya, daya ingat ini masih kuat... Saya tetap saja ingat bahwa surat ini membicarakan hari kiamat yang menakutkan! Hari kiamat yang datangnya bisa kapan saja dan tidak ada yang tahu. 

Dan uniknya dari hafal surat tersebut maka secara otodidak saya akhirnya belajar sebuah kata atau kalimat itu berbunyi begini karena huruf ini, karena harokat ini. Begitu seterusnya sampai akhirnya saya terdorong untuk belajar secara  otodidak dengan mencari sendiri, belajar sendiri  huruf hijaiyah melalui buku-buku punya Bapak yang tersedia di rumah. Berkaitan dengan ini saya terbantu oleh buku yang dibelikan Bapak buat Ibu saya. Ibu saya memang seorang mualaf mungkin karena itu Bapak menyediakan buku-buku bacaan al Qur'an dengan cara bacanya dalam huruf latin. Dari buku-buku itu pula saya belajar. Setahu saya kakak saya pun melakukan hal yang sama. Kami mengaji di tempat yang sama tapi kelas kakak lebih tinggi.

Balik lagi ke artikel itu... 
Begitulah... Saya seperti menemukan air penawar saat membaca konsep itu. Cuma saya tidak paham how-nya. Itulah yang terus saya kejar melalui koran, majalah dan buku tapi dengan catatan: semampu saya. Sampai suatu waktu Allah takdirkan ada seorang teman (wanita) yang bilang ingin mengadakan seminar. Tapi dia tidak punya ide temanya apa dan bagaimana. Dia cuma ingin ada pembicara dari kalangan artis dan dia menyebut nama Marissa Haque. Dia menyatakan jika dirinya yang akan menjadi  penyandang dananya secara pribadi. Awalnya saya tidak percaya tapi setelah dia terus mendesak, maka saya pun percaya dan mengiyakan. Tanpa pikir panjang saya sebutkan bahwa seminarnya adalah seminar pendidikan keluarga. Temanya tentang mengenalkan Tuhan tanpa (menimbulkan) rasa takut. Saya lupa judulnya, karena kejadiannya di awal tahun 90an... (Hii, ketahuan tuanya, ya...😄). Pembicaranya adalah Marissa Haque dan satu lagi dari kalangan kami sendiri (Remaja Masjid) namun namanya sudah mulai terangkat untuk wilayah JawaTimur, Misbachul Huda. 

Singkat cerita seminarnya berjalan lancar. Tapi target saya tidak tercapai. Rupanya tema itu terlalu berat, atau entah bagaimana... Para pembicara tidak pernah bisa sampai menukik secara tajam ke dalam tema bahasan. 

Sejak saat itu saya terus mencarinya dalam diam dan keterbatasan. Waktu itu tidak ada google. Internet, baunya saja belum ada. Hahaha... Mungkin karena saya bagian dari masyarakat kebanyakan yang biasa-biasa saja, ya... Seingat saya saat itu teknologi telekomunikasi yang masuk adalah awal penggunaan radio pager. Maaf jika salah.

Bulan berjalan, tahun demi tahun berganti saya tetap memasang telinga. Benak saya tidak pernah lepas mencoba untuk mereka-reka penerapan ide itu. Mengenalkan Tuhan tanpa rasa takut? Mungkinkah? Kalau mungkin bagaimana? Tak kunjung temukan jawaban akhirnya saya tidak lagi menjadikan ide itu sebagai target pencarian saya. Saya hanya menyimpannya dalam kenangan bahwa saya pernah penasaran dengan ide tersebut. Itu saja. Apalah artinya saya, yang awam dan hanya punya insting melit (curious). Pasrah...

Namun setelah pencarian itu, subhanallah, akhirnya saya menemukan  jawabannya saat membaca Q.S Al Bayyinah (98), di ayat terakhir (8).


"Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Sebenarnya Allah telah mengirimkannya lama bahkan jauh sebelum saya bertanya-tanya. Allahummaghfir... Selama ini saya membacanya, membaca artinya tapi tidak memahaminya karena saat membaca saya tidak hadirkan hati saya. Dan ketika pemahaman itu sampai, seperti ada yang terbuka di kepala saya. Ternyata tidak mungkin mengenalkan Tuhan tanpa rasa takut sedangkan pada ayat-ayat al Qur'an banyak disebutkan agar kita takut kepada Tuhan. Dan yang takut kepadaNya akan mendapat reward yang tidak main-main.

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." Q.S Al Mulk (67); 12.

























Komentar

Postingan Populer