Alhamdulillah, Saya Perempuan

By Yuniar Djafar - Oktober 17, 2019

Foto: Koleksi Pribadi

Bismillah. 

Menjadi perempuan, senang? Hmm, pernah ditanyai bagaimana rasanya jadi perempuan? Pernah, gak,  mendapat ucapan semisal, "Selamat Anda perempuan!"? Pernah, gak? Pernah juga, gak, bilang begini, "Alhamdulillah, saya perempuan." atau, "Untung..., kita perempuan, ya..." 😃

Sejujurnya saya sering lupa, jika mendapatkan sesuatu yang gratis. Lupa bersukur sehingga lupa juga untuk bisa rasakan nikmatnya. Astaghfirullah. 

Saya pun jadi ingat ayat, "Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki karunia (yang diberikanNya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya." Q.S An-Naml (27); 73. Padahal Allah telah menciptakan wujud diri ini sebagai perempuan lengkap tanpa harus melakukan upaya khusus, yang bersifat artifisial. Semuanya asli, sli dan gratis! 

Saya ingat dulu saat-saat  kuliah, kalau benar (tidak salah itu benar, bukan?) 😄. Pas lagi haid, perut rasanya kembung, keringat dingin, mau gimana-gimana gak ada nyamannya. Merasakan dilepen, kata orang Jawa, atau nyeri haid benar-benar tidak nyaman. Tapi kemudian pikiran saya menjelajah jauh hingga teringat kepada  orang-orang seperti Dorce... Sepertinya mereka mau andai ditawari untuk menggantikan posisi saat nyeri haid meski harus bayar mahal sekalipun. Ya, andai ada terobosan teknologi kedokteran yang memungkinkan orang-orang seperti mereka bisa "membeli" nyeri haid, saya percaya pasti mereka akan merelakan uang mereka, berapa pun itu untuk mendapatkannya.  Akhirnya mulai saat itu saya belajar merasakan "nikmat" dilepen meski bibir tetap berdesis menahan nyeri..

Saya pikir kita memang harus saling mengingatkan tentang hal-hal seperti itu supaya kita bisa tau diri dan karenanya bersukur. Adakalanya kita musti pandai bermain peran. Bukan munafik, bukan! Tapi mencoba menempatkan diri pada posisi orang lain, yang bahkan kita tidak menginginkan menjadi mereka atau mengalami apa-apa yang sedang mereka alami. Omong sederhananya itu melihat ke bawah. Saat mengalami lelah atas sesuatu atau sakit berkaitan dengan apa pun, lah... yang kita tidak sukai, mari tengok lebih dulu mereka yang bisa jadi menginginkan "penderitaan" kita. 

Seorang keponakan mengeluhkan sakitnya saat hamil dan menyusui. Saya hanya mengingatkannya saat setahun, dua tahun setelah pernikahan dia belum juga mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Saat kebanyakan orang dalam keluarga kami, teman-temannya, para tetangga menanyakan perihal kehamilannya saat bertemu. Sudah isi belum? Itu adalah kalimat sederhana tapi membutuhkan persiapan mental yang tidak sederhana untuk menghadapinya. Bisa sih, dijawab dengan bergurau, "Sudah. Isi nasi, baru saja  makan." Tapi kami, sebagai bagian dari keluarga tua, mengawasinya dari jauh kalau-kalau perlu "turun tangan" untuk membuatnya kuat menghadapi pertanyaan yang tidak enak itu. 

Qadarullah, dia musti menunggu 2 tahun untuk mendapatkan buah hati pertamanya. Dan memang ternyata selama masa itu dia sempat was-was dan kebat-kebit andai Allah tidak karuniakan keturunan. Sesuatu yang wajar. Saya bilang, andai waktu itu kamu diberitau, "Ok, kamu bisa hamil tapi resikonya kamu akan merasakan sakit, lelah, dan banyak kerepotan. Apakah kamu mau? Pasti kamu bilang: iya saya mau. Sudahlah gak pa pa, saya mau, asal saya bisa hamil.. Begitu, kan?" Seketika senyumnya mengembang mengingat "masa-masa sulit"nya yang sudah Allah hapus.

Ya, sakit memang sakit, repot tetap repot tapi itulah yang menentukan nilai kita, atau kaliber maupun reputasi kita di hadapan Allah. 
Cara kita merespon semua rasa dari kehidupan yang ditentukanNya, itulah nilai kita. 
Ujian dalam hidup tidak akan pernah berhenti sampai kita meninggalkan dunia ini. Di akhirat tidak ada ujian. Di akhirat kita memetik hasil ujian kita. Ujian sebagai perempuan banyak ragamnya. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Yang khas beberapa di antaranya adalah (nyeri) haid, (kepayahan) saat hamil dan menyusui, (sakit saat) melahirkan, (lelah) membesarkan anak... Ah, masih bisa panjaaang...sekali untuk dituliskan yang sebenarnya. "Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu." Q.S Muhammad (47); 31.

Karenanya nikmati saja kekhasan yang telah ditetapkan Allah, Sang Pencipta. Akan selalu ada saat-saat nyaman dan tidak nyaman sebagai perempuan sebagaimana juga saya  yakin, laki-lakipun demikian. Karena semua kekhasan itu adalah ladang pahala. 

Salah satu pengalaman yang membuat saya bersukur sebagai perempuan adalah saat saya naik bus dari Solo mau pulang ke Surabaya. Kejadiannya sudah luuamaaa... banget. Tapi itulah pengalaman pertama yang mengajarkan saya untuk bersukur sebagai perempuan. 

Ceritanya untuk menghemat ongkos dan mengejar waktu saya naik bus ekonomi, seingat saya namanya bus Eka (kalau gak salah satu grup dengan bus Mira). Saat sudah di dalam bus sadarlah saya, sudah tidak ada kursi yang tersisa padahal saya berada dalam kondisi gempor setelah sebelumnya jalan kaki "inspeksi" pasar Klewer lanjut Beteng. Yaah, apa boleh buat. Saya siapkan mental untuk kuatkan diri sembari "dremimil", bahasa Jawa, artinya komat-kamit, dzikir dan doa agar segera ada yang turun sehingga menyisakan tempat buat saya. Alhamdulillah, tepat di depan saya, seorang Bapak berdiri dan mempersilakan saya duduk. Ma sya Allah, laa quwwata illa billah... Alhamdulillah, saya perempuan 😊, itulah yang tercetus di dalam benak. Saat itu saya merasa yakin bahwa Bapak tersebut memberikan kursinya kepada saya karena saya perempuan. Selain saya ada beberapa orang laki-laki yang juga tidak mendapatkan tempat duduk, sebenarnya. Salahkah merasa seperti itu? Saya bersukur Allah memudahkan saya menerima ketetapanNya sebagai perempuan. Itulah momentum yang selanjutnya membuat saya berusaha terus meng-koleksi ingatan yang bisa menggiring saya untuk mensyukuri takdir saya sebagai perempuan. 

Sebenarnya kalau kita mau siapkan ruang di dalam benak dan dada, bersukurlah kita sebagai perempuan. Perempuan yang ditakdirkan bisa mempunyai kelembutan yang ekstra. Yang lelahnya seberat apa pun bisa terbayar murah dengan senyum sang buah hati dan orang-orang yang dicintai. Perempuan yang sering mencemaskan seseorang sedangkan yang dicemaskan tenang-tenang saja. Hahaha. Semua itu terlalu indah tuk dilupakan... Nikmati saja... Jangan sampai kita menginginkannya saat semuanya sudah hilang.

Ada yang setuju? Eh, ada yang gak setuju? 😄😄😄






































  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. MasyaAllah, Harus bersyukur apapun yang Allah takdirkan untuk kita ya Mba, hal itu akan membuat kita jauh lebih menikmati hidup. Terimakasih tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Via... Saya juga berterima kasih karena Via sudah mau tengok tulisan saya. Jazakillah khayra,Via.

      Hapus