CUCU PERTAMA

Kehebohan keluarga besar dimulai saat datang berita kehamilan keponakan. Dia merupakan anak pertama dari kakak perempuan saya yang merupakan anak pertama dalam keluarga besar kami. Jadi Kasak-kusuk pun dimulai. Mulai dari adik-adiknya hingga Ibu yang notabene calon Buyut pun mulai menyiapkan sebutan masing-masing. Ibu sedari awal  disibukkan antara pilihan sebutan Yayut atau Yutti atau bahkan Yayutti sekalian. Ketiganya merupakan "penemuan" beliau sendiri. Para keponakan pun takkalah hebohnya hingga melahirkan perdebatan antara sang Uti (Eyang Putri, disingkat Uti) yaitu Ibu saya dengan para keponakan. Para keponakan menginginkan sebutan Bibi dan Paman tapi Ibu saya menghendaki sebutan Nyanya dan Anom yang telah menjadi sebutan penggganti tante dan om dalam keluarga kami. Kami memang berdarah Madura. Bapak saya dari Pamekasan, Madura. Sebutan Nyanya berarti Bibi, Bulik atau Tante. Sedangkan Anom adalah panggilan untuk saudara muda laki-laki (adik laki-laki) dari orang tua. Keduanya merupakan panggilan yang nyaris musnah bahkan di Madura, kalah oleh Tante dan Om.  Karenanya keluarga besar kami menggunakannya kembali. Biar dikatakan dissaan (udik) kami tak perduli. Bagi kami Nyanya dan Anom adalah panggilan yang terdengar eksotis dan etnik banget.. Berbeda dari yang biasanya. 

Perdebatan tersebut dimenangkan oleh para keponakan dengan dalih karena sesungguhnya mereka dalam mengisi kolom kesukuan, isiannya adalah: Jawa. Hahaha... Ya, ayah mereka memang orang Jawa. Ini bukan rasisme, hanya keinginan mendapatkan yang beda daripada biasanya dengan nguri-uri kabudayan semampu kami. 😊

Giliran para Eyang memilih sebutan. Saya mengusulkan Kakak perempuan dan Kakak ipar dengan panggilan Tuti (dari kata Uti) dan Tatung (dari kata Kakung) tapi Kakak  saya ternyata lebih nyaman dengan sebutan Uti sedangkan Kakak ipar memilih sebutan Datuk dengan disingkat menjadi Atuk. Jadilah Uti dan Atuk mereka dipanggil. Adik saya minta dipanggil Ballik. Dalam bahasa Madura Ballik biasa dipakai untuk panggilan adik dari Kakek atau Nenek. Atau kalau bahasa Jawa: Mbah Cilik atau Mbahlik. Bahasa Madura memang banyak menyerap Bahasa Jawa. Untuk saya? Tetap dengan panggilan Grannie. Jadi nyempal sendiri... Hihihi, seru kan?









Komentar

Postingan Populer