Trend Hijab Indonesia 2020

By Yuniar Djafar - November 25, 2019

Foto: Estyle Hijab Indonesia


Bismillah.

Pembahasan tentang kewajiban berhijab, Alhamdulillah sudah banyak yang bisa menerima dan menjalankannya. Untuk mencapai tahapan ini diperlukan waktu puluhan tahun. Dari dakwah para da'i dan da'iyah atau aktifis dakwah hingga hadirnya hijab influencer di dunia maya kesadaran berhijab akhirnya semakin lama semakin bisa diterima dan meluas. Saat ini menemukan muslimah berhijab merupakan hal yang mudah karena sudah jamaknya hijab sebagai bagian dari keseharian. Semoga Allah mencatat kegigihan para aktifis dakwah sebagai amal shalih dan amal jariyah mereka. Aamiin.


Hijab dan Otokritik


Berbicara tentang hijab dan trend-nya buat saya tetap menjadi "beban". Konsep hijab adalah menutup. Menutup tujuannya agar tidak nampak dan karenanya targetnya adalah tidak menjadi perhatian. Tapi selama hampir 20 tahun berkecimpung dalam dunia ini, konsep terebut masih sulit untuk diterapkan. Akhirnya orang-orang seperti saya pun akan kembali pada: bahwa "segala sesuatu butuh proses". Upss..., Anda menyanggah hal ini? Sejujurnya saya katakan, "Anda mempunyai peluang yang besar untuk benar". Rabbanaghfirlana.


Foto: Estyle Hijab Indonesia



Fashion Trend 

Boleh saja di luar sana orang-orang menentukan trend ini dan itu tapi sejauh yang saya ketahui trend hijab di Indonesia memiliki karakter berbeda. Jarang yang terpengaruh secara langsung. Penikmat fashion di Indonesia bukan tipe yang selalu mengekor apa yang menjadi trend. Selalu ada "rantai yang terputus". Yang berada di panggung cat walk tidak serta merta mempengaruhi para pebisnis fashion. Selera masyarakat Indonesia terhadap fashion lebih long lasting jika menemukan trend "yang cocok". Demikian pula yang terjadi pada hijab. Inilah keunikan masyarakat Indonesia. 

Saya lebih cenderung melihat masyarakat kita lebih dipengaruhi oleh gaya para pesohor di panggung hiburan dan atau para influencer di dunia maya yang eksis melalui media sosial. Andai mereka mengikuti trend fashion global maka biasanya jadilah itu trend. Sekali pun begitu tetap saja "kearifan sosial" masyarakat tetap kuat. Artinya jika itu cocok maka mereka akan ikuti, jika tidak maka mereka akan setia ikuti trend sebelumnya.

Trend Hijab Syar'i

Istilah Syar'i merupakan taktik marketing yang jitu. Saya mengenal style hijab syar'i pada tahun 2015 berawal dari permintaan pelanggan besar saya kala itu. Hijab syar'i adalah hijab (ready to wear) dengan panjang  bagian depan menutup bawah perut dan, ini yang benar-benar menjadi pembeda dari style sebelumnya, yaitu panjang bagian belakang yang menutup bagian bawah (maaf) pantat bahkan beberapa ada yang panjangnya hingga sebetis. Style ini sukses membuat "dirupsi" hijab era sebelumnya yang dikuasai oleh hijab dengan potongan leher milik Rabbani. Ya, sejak sekitar tahun 2015 brand Si se sa  tidak membutuhkan waktu lama untuk menyapu habis Rabbani style dengan nyaris hanya menyisakan sedikit ceruk pasar.


Foto: Estyle Hijab Indonesia


Bersamaan dengan itu muncullah istilah khimar. Khimar yang berarti kerudung akhirnya berujung pada penamaan untuk hijab berbahan kain (not-stretchy). Khimar akhirnya juga hadir dalam versi ready to wear atau blusukan (langsung masuk, bahasa Jawa). 

Karena itu bahan "kain" akhirnya mengalahkan penggunaan bahan "kaos" atau bahan yang stretchy seperti spandex atau ity/stella yang dikenal pasar terlebih dahulu. 
Sebelumnya bahan "kain" seperti jenis sifon atau georgette bahkan katun hanya dipakai oleh para hijabers untuk bahan pashmina mereka. Namun dengan hadirnya hijab syar'i, hijab ready to wear, hijab instan dan bergo pun beralih ke bahan "kain".

Saya bisa menandai bahwa sesungguhnya "gejala" hijab syar'i tanpa cutting leher ini dimulai pada tahun 2013 - 2014 saat hijab Syiria muncul. Entah siapa yang menghadirkan style Syiria ini yang jelas hijab Syiria ini menjadi awal kembalinya hijab tanpa cutting di leher. Mengenai istilah Syiria saya menduga itu adalah taktik orang marketing untuk menarik perhatian pasar hijab. Alasannya? Karena hijab Syiria yang hadir pada masa itu muncul dengan panjang bagian depan yang tidak menutup dada secara sempurna selain juga mengenakan asesori renda cukup besar pada bagian bawahnya, sesuatu yang tidak jamak andai kita googling tentang hijab muslimah Syiria masa itu. 


Foto: Website Sisesa


Saya melihat tahun 2020 in sya Allah tetap akan dikuasai oleh trend hijab syar'i. Hijab lebar dan panjang yang kadang berlapis, kadang hanya selapis. Cuma bedanya sekarang sepertinya sedang terjadi pergeseran dari awal kehadirannya yang minimalis cenderung polos menjadi lebih playful. Penggunaan variasi bahan bermotif tak lagi tabu, bahkan Si se sa yang menjadi leader hijab syar'i pun sudah merilis hijab 2 lapis yang menggunakan bahan bermotif. Dan tidak tanggung-tanggung, mereka memilih leopard print untuk produk terbaru! Motif macan tutul itu keluar bersamaan dengan rilis khimar mereka yang bercorak tropical print, menggambarkan fantasi dedaunan dari hutan tropis. Cukup ramai! 


Foto: Website Sisesa
Baca juga: Modest Fashion For Men
Meski Si se sa saat ini merilis hijab syar'i dengan motif yang cukup berani sehingga mengubah kesan hijab syar'i yang awalnya polos dan kalem, penggemar hijab syar'i yang bertahan untuk tetap memilih hijab polos akan tetap menjadi pangsa pasar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Style hijab polos, minimalis digawangi oleh brand Alila. Pasar mereka adalah muslimah yang cukup berhati-hati dalam menentukan pilihan. Seperti biasa pangsa pasar hijab ini akan memilih warna bold atau sekalian pastel! Warna-warna seperti hitam, donker atau navy, maroon, abu tua adalah kesukaan mereka. Untuk kesan yang lebih ringan mereka biasanya memilih warna abu muda, dusty pink atau soft grey selain warna pastel lainnya.


Foto: @kataloghijabalila


Pasar memang akhirnya menciptakan polarisasi gaya. Untuk para ibu muda hingga dekati paruh baya cenderung ikuti gaya Si se sa dan para pengikutnya. Sedangkan mahasiswi serta mereka yang bercadar biasanya mengikuti gaya Alila.


SCARF

Foto Instagram  @doa.indonesia

Para muslimah untuk keperluan yang lebih formal semisal untuk urusan kantor cenderung memilih scarf sebagai pilihan. Penggunaan scarf memang bisa menghasilkan kesan formal yang lebih kuat. Pashmina masih ada saja yang memilih tapi sebagaimana 2 atau 3 tahun sebelumnya, pada tahun 2020 scarf yang berarti kerudung segi empat bujur sangkar lebih leading. Kelebihan scarf dibandingkan pashmina adalah penggunaannya yang lebih praktis tanpa lilitan berlapis yang kadang bikin sebagian muslimah "gak omes" (bahasa Jawa, Suroboyoan, artinya tidak telaten). 

Foto Instagram @buttonscarves


Scarf polos maupun motif dengan penyelesaian teknik yang memanfaatkan teknologi sinar laser saat ini dan sampai tahun depan sepertinya masih akan terus eksis. Penyelesaian teknik laser berbentuk lengkung atau sedikit runcing akan terus hadir menjadi pilihan menemani scarf dengan penyelesaian teknik jahit kelim (tanpa obras). Bahan voal dengan berbagai variannya sepertinya masih langgeng sebagai primadona untuk bahan kerudung berbentuk bujur sangkar ini. 

Foto Instagram @napocut


Untuk motif, motif floral dan abstrak akan terus silih berganti saling melengkapi. Leading brand untuk kelompok scarf adalah Doa.indonesia by Dewi Sandra dan Buttonscarves.  Sedangkan scarf yang mengusung gaya klasik bordir dipimpin brand naPocut.















  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kalau soal selera umum Indonesia sih aku kurang paham ya. Aku pribadi juga lebih tradisional. Lebih main aman, yaitu yang nyaman dipakai seharian, dan tidak licin. Aku orang yg aktif dan banyak gerak. Jadi plek plek yg penting nyaman. Sama main warna sih, krn lebih suka motif di baju bukan di hijab hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya, mbak Kartika. Banyak yang seperti Anda, termasuk saya. Nyaman itu nomor satu, baru yang lainnya. Terima kasih sudah mampir di sini, Sunset Beauty Diary, buat saya ini adalah support yang sangat berarti. Jazakillah khayra.

      Hapus