Cerita Tentang Masker dan Cadar

By Yuniar Djafar - Juni 29, 2020



- Photo by Maria Lysenko on Unsplash -


Bismillah.

Tak pernah terbayangkan bahkan pada akhir tahun 2019 atau bahkan pada awal tahun ini bahwa masker akan menempel pada wajah kita dalam waktu yang entah sampai kapan kita bisa bebas melepasnya. Covid 19 membuat kita tak jauh beda dengan orang bercadar dalam artian hanya menyisakan segaris ruang untuk sepasang mata kita. Dulu kita mengenakan masker hanya saat dalam perjalanan atau di luar ruangan saja. Kini masker itu nyaris menempel pada wajah ke mana saja kita bergerak. Ya, bergerak... Tidak hanya melangkah. 

Dulu masker bisa kita kenakan bahkan untuk lebih dari sehari pemakaian -- meski sesungguhnya itu sangat tidak dianjurkan -- karena kita hanya mengenakannya sesaat saja. Kini -- jika kita mau ikuti anjuran yang benar -- kita musti siapkan masker pengganti jika kita sudah mulai aktif kembali di tempat kerja. Masker kain berdasar anjuran yang pernah saya dapatkan sebaiknya diganti setiap empat jam sekali. Jadi jika jam kerja kita nantinya tetap delapan jam maka dalam sehari kita membutuhkan dua lembar masker. 

Subhanallah, jika Allah berkehendak maka perubahan itu bisa tiba-tiba dan dari arah yang tidak kita sangka-sangka. 

"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." QS. Yasin (36); 82-83.

Dulu jika ada yang menyapa di jalan dan yang menyapa kita mengenakan masker kita sering bertanya-tanya..., "Siapa, ya?". Untuk sekarang apakah masih demikian?

Saya kok, percaya, andai kebiasaan pakai masker ini nanti terus berjalan mungkin setahun atau lebih, kebingungan mengidentifikasi orang-orang yang kita kenal saat bermasker tidak akan terjadi lagi. Bagaimana bisa?

Ini ada sedikit cerita, pengalaman saya saat di tanah suci dan mengamati -- astaghfirullah, seperti kurang kerjaan, ya? -- para wanita bercadar dan proses identifikasi orang-orang terdekat mereka atas para wanita itu.

Saat itu bulan Ramadhan, di Masjidil Haram. Seperti biasa, sebagaimana disampaikan oleh teman-teman yang berpengalaman lebih dari sekali ke tanah suci, pada bulan Ramadhan pengunjung masjidil Haram dan Madinah cenderung mengalami peningkatan besar. Jika di luar Ramadhan kedua kota di tanah suci itu dipenuhi oleh jamaah dari luar Saudi, maka pada bulan Ramadhan, penduduk setempat pun keluar, meramaikan kedua masjid di kota itu, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 



Foto Kalde dari Pixabay


Saya tidak ingat hari itu hari yang ke berapa kami di Makkah, yang jelas saat itu di Masjidil Haram. Setelah "berjuang" untuk mendapatkan tempat, saya  bersama sahabat saya akhirnya menemukan tempat yang cukup strategis, yaitu sholat yang bisa menghadap Kakbah secara langsung. Kalau langsung bener sih, enggak... Tepatnya 'menatap' Kakbah. Tapi kami bersukur untuk itu. Yang membuat saya tenang adalah karena tempat itu memang diperuntukkan untuk jamaah wanita. Jadi tidak perlu berpindah lagi.

Sembari menunggu iqamah saya melihat banyak jamaah ibu-ibu muda yang membawa anak-anak mereka yang masih kecil-kecil dan...lucu-lucu. Ma sya Allah..., ibu-ibu mereka tidak nampak khawatir dengan hal itu. Saya bahkan tidak sulit temukan  ibu muda yang shalat sedangkan bayinya, saya bilang begitu karena sepertinya masih belum bisa berjalan -- tertidur pulas di sampingnya, tepat di sisi kakinya, hatta itu saat shalat Isya atau Shubuh.

Yang membuat saya heran, mereka, anak kecil-kecil itu tidak pernah kebingungan menemukan ibu mereka masing-masing padahal saat itu ibu-ibu mereka masih mengenakan cadar. Padahal juga anak-anak itu berlarian dengan sesama mereka seperti jamaknya anak kecil--sehingga kadang agak jauh dari tempat ibu mereka duduk. Mudah saja mereka mengenali ibu mereka di antara sekiaa..an banyak wanita yang kalau menurut saya tidak ada bedanya. Sama-sama berjilbab hitam, bercadar dan hijab hitam.... Kalau saya, pasti bingung. Dijamin! 😄 

Sebenarnya keheranan saya itu sudah dimulai sejak di Masjid Nabawi, Madinah. Saya memang "ndesani" atau ndeso! Di halaman Masjid Nabawi saya melihat banyak pasangan suami istri yang sudah janjian mau ketemu di titik tertentu di halaman masjid. Yang menjadi pertanyaan saya waktu itu, "Kok, gak ada yang keliru ya, mereka menemukan istri masing-masing? Di tempat yang luas itu dengan banyak wanita yang postur, penampilan dan pakaian yang sama, para suami itu sepertinya tidak kesulitan. Kok, tau? Iya, mereka sepertinya bisa langsung gathuk, gitu. 

Padahal istri mereka sama-sama mengenakan hitam dan hanya meninggalkan segaris tempat buat sepasang mata, kok, nggak keliru? Ini bukan canda, saya beneran bertanya-tanya waktu itu. 

Kalau ada yang bilang, kan, bisa telepon dulu... Saya melihat gestur para suami itu sepertinya langsung malangkah mantap, gitu. Dan mereka njedhul kadang dari arah yang tidak selalu dari depan. 

Nah, karena itu seperti saya bilang di atas, saya percaya kita nanti akan sama seperti mereka. Mudah saja  mengenali orang-orang terdekat meski kita hanya melihat sepasang mata mereka. Tidak akan ada lagi kebingungan, "Siapa, ya, tadi?" atau: yang mana, ya, istriku? meski andai pakaian dan maskernya seragam. Hahaha... 😄











Keterangan:

Gathuk, bahasa Jawa artinya klop atau "nyambung".

Njedhul bahasa Jawa artinya muncul.






  • Share:

You Might Also Like

0 komentar