Usiamu Bertambah, Sayang. Jatah Umurmu Makin Pendek. Masihkah Kau Berharap Ucapan Untukmu?

By Yuniar Djafar - Juni 26, 2020



- Design taken from Canva -


Bismillah.

Saya sedang melipat selimut "mungkin", saat seorang teman mengajak video call melalui whatsapp.  Saya katakan "mungkin" karena saya baru membuka whatsapp setelah beberapa jam  masuknya pesan itu. Saya tau dia akan mengucapkan selamat ulang tahun. Dia selalu rutin dan tidak pernah lupa melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Tidak hanya kepada saya, kepada teman-teman yang lain pun demikian juga. Ya, jamaklah seperti yang juga dilakukan oleh yang lainnya.

Tapi hari ini saya merasakan yang berbeda. Penyebabnya, sehari sebelumnya hati saya benar-benar sedih. Sahabat dekat saya, sangat dekat dan telah saya anggap saudara, wafat. Dia dan keluarganya adalah bagian dari keluarga saya. Dan yang menyedihkan lagi jenazahnya diperlakukan dengan prosedur Covid-19 meski dia masuk ICU karena DM (Diabetes Melitus). Istrinya, yang juga sahabat saya dan anak yang menungguinya saat di rumah sakit pun akhirnya mendapat status ODP. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu adalah pepatah yang tepat menggambarkan perasaan saya (terlebih keluarganya, ya... 😢).

Sebenarnya sejak dulu saya termasuk mereka yang berpendapat bahwa perayaan ulang tahun merupakan hal yang tidak penting. Saya juga tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun tapi hanya sampai di situ saja, tidak sampai masuk di hati. Saya hanya tidak pernah menganggap serius tentang ucapan ulang tahun. Tapi kali ini hati saya muram dan saya terdorong untuk berpikir ulang lebih rinci tentang ucapan maupun perayaan ulang tahun. 

Mengenai teman yang mengucapkannya, saya tau dia bermaksud baik. Mungkin, setidaknya dia ikut bergembira dengan pertambahan umur saya dan berharap umur saya bertambah panjang dan itu menjadi kebahagiaannya juga.  

Tapi wafatnya seorang sahabat dekat telah menjadi pengingat yang keras buat saya. Bahwa hidup tidak pernah seringan yang kita sangkakan jika kita sadar bahwa kita akan memasuki kehidupan lanjutan yang abadi, kehidupan setelah mati, yaitu akhirat. Akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi teman saya tadi melalui chatts bukan video call. Saya sampaikan padanya tentang pandangan saya tentang ulang tahun (saya) kali ini. Alhamdulillah, dengan seijin Allah dia bisa memahami hingga akhirnya kami saling mendoakan kebaikan. 


Masih layakkah pengulangan tanggal kelahiran dirayakan? 

Akhirnya, pertanyaan itu timbul lagi memenuhi benak saya. Bukankah saat berulang tahun adalah saat berkurangnya kesempatan hidup kita? Saya teringat selisih usia saya dengan sahabat saya itu hanya dua tahun. Saya lebih tua. Benar, lebih tua tidak berarti lebih dulu mati tapi berapa pun jatah umur kita, kita akan menghadapinya... Jadi seperti orang yang "perhitungan" dengan usia, ya? Inilah penyebab hitung-hitungan itu, mari kita ingat...


Kita memiliki batas usia


Design taken from Canva


"Tiap-tiap umat memiliki batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." Q.S. Al A'raf (7); 34.


Pertanggung jawaban di akhirat 

Pertanggung jawaban adalah hal yang jamak dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai karyawan kita bertanggung jawab kepada manager atau owner perusahaan, sebagai pengurus sekecil apa pun organisasi yang kita masuki kita bertanggung jawab kepada ketua. Sebagai anggota keluarga pun demikian, pertanggung jawaban selalu diminta atas setiap lembar, setiap pekerjaan, setiap kegiatan yang kita terima. Karena itu adalah wajar pertanggung jawaban pun akan diminta di akhirat nanti.

"Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja, (tanpa pertanggung jawaban)? Q.S Al Qiyamah (75); 36.

"...Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban." QS Al Isra (17); 36.

Mengingat hal ini maka ulang tahun adalah sesuatu yang mestinya menggentarkan hati kita karena kita tau semakin dekat waktu kita untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita selama hidup di dunia.

Inilah kelima pertanyaan yang akan dihadapkan pada manusia di hari kiamat:  
1. mengenai umurnya di manakah ia habiskan? 
2. ilmunya di manakah ia amalkan?
3. hartanya bagaimana ia peroleh? 
4. hartanya di mana ia infakkan? 
5. tubuhnya di manakah usangnya? 

"Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya: umurnya di manakah ia habiskan, ilmunya di manakah ia amalkan, hartanya bagaimana ia peroleh dan di mana ia infakkan, mengenai tubuhnya di manakah ia usangnya?" (HR. Tirmidzi no. 2417 dari Abi Barzah Al Islami, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih).


Menempatkan umur pada tempatnya

Karena itu orang-orang 'alim menjadikan umur sebagai sesuatu yang membuat mereka menyesal.

Basyr bin Al Harits berkata,

"Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di Bashroh dan ia sedang menangis. Aku bertanya, apa yang menyebabkanmu menangis? Ia menjawab, aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku." (Mujalasah wa Jawahir 'Al Ilm, 1; 46. Asy Syamilah).



Design taken from Canva



Peringatan tentang umur

Saya pikir kita memang harus menempatkan umur pada tempatnya karena peringatan tentang umur, seperti saya bilang, sangat menggentarkan. Benar-benar menggentarkan dan sangat jauh dari suasana gembira atau suka cita sebagaimana perayaannya pada umumnya selama ini.

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya, Tuhan kami keluarkan kami niscaya kami akan mengerjakan amalan yang saleh, berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah azab Kami dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun." QS. Al Fathir (35); 37.



- super sedih -













Sumber:

www.almanhajj.or.id

www.muslimah.or.id

www.rumaysho.com



















  • Share:

You Might Also Like

0 komentar