Cek Namamu, Siapa Tahu Bisa Dijual Untuk Memulai Bisnis..

By Yuniar Djafar - Maret 28, 2021

Bismillah.

"What is in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet." Kalimat puitis yang diucapkan Juliet kepada Romeo itu sangat terkenal. 

Beberapa orang bilang, "Apalah arti sebuah nama..."  Dalam Islam nama berarti doa dan dalam dunia bisnis nama itu nilainya bisa mahal... Mahal banget bahkan! 

Berkaitan dengan hal di atas saya baru saja menemani seorang teman dalam menghadapi persalinan bisnisnya dalam bidang kuliner.

Pandemi membuat banyak orang harus memutar akal agar bisa survive, begitulah yang dialami salah satu teman saya. Teman saya ini mengatakan jika ingin berjualan nasi pecel. Alasannya sederhana, karena salah seorang teman kami adalah produsen bumbu pecel.

Saat dia menyatakan hal itu saya bilang, "Kalau jualan nasi pecel sangat susah mencari celah untuk menarik perhatian pasar (konsumen)." 

Surabaya bukan Madiun tapi nyaris di setiap tikungan gang ataupun perempatan jalan mulai dari pagi hingga malam, tidak sulit menemukan penjual pecel dengan berbagai kelas. Dari yang kaki lima hingga resto. Ada yang mengklaim sebagai penjual nasi pecel Madiun, pecel Blitar, pecel Ponorogo, Kediri plus sambal tumpang. Ada yang menggunakan nama penjualnya seperti mbak Dewi, bu Ima, bu Kus... Macam-macam tapi tetap saja: pecel!

"Terus bagaimana?" tanyanya.

Saya bilang, "Jual namamu saja!"

Ya, teman saya bernama Nyoman, Ni Nyoman Astuti, tepatnya. Darah Bali mengalir pada tubuhnya. Sangat tidak nyaman menyandingkan nama tersebut dengan kata nasi pecel. Nasi pecel bu Nyoman. Di telinga sangat tidak nyaman didengar, kata saya. Orang Surabaya menyebutnya njomplang alias tidak sinkron.

Saya kemudian mengajaknya untuk melihat situasi di sekitar kami. Di kawasan tempat tinggal kami ada sebuah depot masakan Bali yang cukup ramai. Saking ramainya sampai-sampai salah seorang pemilik rumah makan chinese food yang berjarak sekitar 300 m dari depot tersebut beralih haluan menyajikan produk yang sama dan kelihatannya sukses juga meski tidak seramai yang pertama. Ya, setidaknya rumah makannya kini lebih ramai daripada saat berjualan chinese food. Cuma ada catatan besarnya, kuliner Bali yang mereka sediakan tidak bisa dikonsumsi oleh muslim.

"Mengapa tidak menyediakan menu Bali yang bisa dikonsumsi semua kalangan?" kata saya. Singkat cerita dia pun sepakat dan lahirlah Bu Nyoman, Kuliner Bali Muslim, begitu nama yang kusematkan pada bisnisnya.




Sejak saat itu teman saya mulai merunut akar keluarganya kembali. Surprisingly, ternyata teman saya piawai memasak menu Bali, sesuatu yang baru saya ketahui. Sebelumnya saya hanya mengenal sambal embe darinya. 😃

Di awal saya pikir akan memerlukan waktu baginya untuk bisa menghadirkan menu Bali. Selama belasan tahun berteman dengannya saya tak pernah melihatnya memasak menu Bali kecuali sambal embe. Ternyata saya keliru. Tidak sampai sepekan teman saya sudah menyajikan menu pertamanya yaitu jukut urap dan ayam sisit.

Ada cerita lucunya. Saat tester masakan pertama dia bawa ke rumah, saya tidak mau mengandalkan lidah saya saja. Saya juga "mengerahkan" lidah anak muda. Maka bersama keponakan di rumah saya pun melahap kedua menu tersebut bersama nasi. "Enak, enak...," saya dan beberapa keponakan kompak mengacungkan jempol. Tapi alamak..., beberapa saat kemudian kami merasa "nggliyeng" (pusing). 

Saya diam beberapa saat mencoba mencari penyebabnya. Saya tanya teman saya, "Ini kayaknya dominan kencur dan jeruk uwik, ya?". Jeruk uwik adalah jeruk sambal atau limau, saya melihat potongannya pada jukut urap.

Teman saya mengiyakan. Oh, saya pun ingat pengalaman saya saat membuat masakan lemak telur dari Kalimantan. Masakan itu hanya menggunakan dua bumbu, yaitu kencur dan daun jeruk. Efeknya sama: nggliyeng! 

Rupanya standar "kepekatan" citarasa lidah Bali dan Jawa perlu penyesuaian. Jadilah selang beberapa hari kemudian dia coba kurangi takarannya, dan...alhamdulillah, langsung pas!

Pada awalnya teman saya hanya menyediakan menu Bali dalam kemasan bungkus. Dan menu nasi bungkus pertamanya itu saya beri nama nasi dewata yang berisikan nasi, jukut urap, telur dadar dan ayam sisit. Menyusul kemudian nasi Kintamani dengan isian nasi, ayam kesuno cekuh dan plecing kangkung.





PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) ke dua di Surabaya membuat penjualan offline teman saya terpukul. Bisnis sederhana yang hanya memanfaatkan sebuah meja dan beberapa kursi plastik di depan rumahnya itu pun benar-benar mati. Bersyukur jiwa tawakal teman saya ini cukup kuat. Akhirnya saya pun mengarahkannya untuk memanfaatkan jejaring sosial yang kami punyai, yaitu whatsapp sebagai awal penjajagan penjualan online.

Mendengar penjualan online saya pun teringat bahwa yang ngeh dengan dunia dalam jejaring ini biasanya adalah kaum muda. Terpikir oleh saya untuk mendekati mereka. Dari Pinterest saya melihat foto rice burger. Saya pun memintanya untuk membuat rice burger dengan cita rasa Bali. Alhamdulillah, lahirlah menu nasi tumpuk Bedugul dan nasi tumpuk Sraye. 

Saya memutuskan menggunakan istilah nasi tumpuk untuk menggantikan istilah rice burger. Saya menginginkan kesan lokal yang lebih kuat. Selain itu, menurut saya, istilah nasi tumpuk itu terdengar eksotis. Hihihi...

Dikemas dalam kotak ecopack kedua nasi tumpuk itu kini menjadi icon bisnis kuliner teman saya.




Saya tahu perjalanan bisnis ini tidak akan mudah tapi saya juga tahu selama masih bersandar kepada-Nya dan terus berusaha, in sya Allah akan selalu ada jalan. 

Kemarin saya tidak menyangka jika utak-atik saya memanfaatkan Canva dan menambah tagline  pada tampilan poster yang saya buat telah menarik perhatian seorang pebisnis senior yang perhatian kepada pelaku UMKM di Surabaya. Beliau membaca postingan saya dan menyatakan tertarik dengan tagline Citarasa Bali Halal  yang saya pasang pada disain poster yang saya posting di sebuah grup whatssapp UMKM. Sosok tersebut menyatakan tertarik dan memesan tiga kotak nasi tumpuk. Biidznillah setelah mencicipinya beliau merasakan cocok dan membuka jalan bagi Bu Nyoman, Kuliner Bali Muslim lebar-lebar dalam memanfaatkan jejaring bisnis yang dimilikinya. Ma sya Allah, laa quwwata illa billah.


Perjalanan masih panjang tapi saya bersyukur bisa menemani orang yang tak mudah putus asa bahkan dengan usia yang tidak muda untuk sama-sama berbagi manfaat dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Last but not least, tujuan saya tuliskan ini adalah menginspirasi kalau-kalau ada  yang ingin memulai bisnis. Cobalah cari kekuatan yang ada pada diri sendiri. Dan itu tidak melulu pada kekuatan nominal atau finansial. Kita ada kalanya abai dengan kekuatan karunia dari Allah  yang sebenarnya taken for granted. Dalam kasus ini adalah nama dan akar keluarga. 

Siapa tahu setelah ini ada yang akhirnya bisa "jual nama" juga seperti teman saya. 😄











  • Share:

You Might Also Like

20 komentar

  1. Saya termasuk yang jual nama juga bu, di blog, di nama produkku dulu ada semat2an namaku. dan ngomong2 soal masakan bali yang paling favorit buat saya ya sambal matah dan sate lilit. duuuh laper. Bu nyoman, udah punya logo belom, sinih saya bikinin hahahahh (tetepp iklan)

    BalasHapus
  2. Hihihi.. Iya sambal matah kayaknya sambal nasional jadinya. Belum punya logo, mbak. Nanti tak bilang ke orangnya, ya.

    BalasHapus
  3. Nama saya udah banyak jadi merek datang terkenal, Bu. Nama saya Vita. Vitamin, vitacimin, vitacharm, vitacid, vitalac, dan vita vita lainnya. Haha

    BalasHapus
  4. Hahaha.... Sumprit ngakak! Ganti nama saja kalau begitu :))

    BalasHapus
  5. Wow Alhamdulillah banget ya Mbak niatan membantu usaha teman bisa jadi jalan pembuka untuk bu Nyoman berbisnis kuliner lebih semangat lagi.. Kreatif banget memang hidangannya.. Nasi tumpuk.. Aku ngikik baca abis makan keliyengan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, iya, mbak... Bener, bener keliyengan. Menurutku kita harus hati-hati kalau ada resep yang pakai kencur dan jeruk/daun jeruk. Keduanya ini dahsyat kalau sudah saling bertemu.

      Hapus
  6. Nasi kintamaninya sangat menggoda ya buk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gitu, ya...? Wah, genit juga ya, si Kintamani. Hahaha

      Hapus
  7. Kerennn, aku loh jadi ngiler pengen nyicip. Tapi Bali dominan pedes banget gak ga makanannya?

    Btw aku setuju, selama bertawakal, ada niat pasti apapun bisa kok. Mau usaha pun bisa, ada kekuatan terselubung sebenernya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang ini gak pedes, kok, mbak. Kami ambil yang garis tengah, moderat.. Bener, tawakal 'alallah, in sya Allah ada jalan.

      Hapus
  8. buka dan baca blog ini menjelang makan siang, dan ya, saya lapar, hahahaha. menginspirasi sekali, mbak. duh, jadi pengen. eh ini bisa online kan ya? tapi kalau dikirim jauh, hmmm ... masih bisa nggak nih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, pas ya... Pas lapar, pas baca... Kalau dikirim dari jauh, sementara ini cuma bisa kirim gambar. Hahaha..

      Hapus
  9. Pandemi ini benar-benar ya, banyak org kehilangan pekerjan, banyak usahanya yang mulai down, Mbak bisa ngasi solusi buat teman untuk usaha mereka itu sesuatu yg luar biasa mbak.

    BalasHapus
  10. keren mba, bisa membantu teman menjualkan produknya, sangat menginspirasi, memang dalam bisnis kuliner harus jeli membidik pasar karena kompetitor yang banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak, pesaingnya bejibun. Makanya cari "jalan tikus", ceritanya.

      Hapus
  11. Ini sebenarnya yg banyak idenya tuh kamu ya mba.. Menginspirasi banyak orang dr hal2 yg sederhana

    BalasHapus
  12. ahhh laper jadinyaaa. Keren mba, bisa ngasih ide jualan itu keren banget....semoga lancar dan sukses ya mba dan temenmu mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga demikian untukmu. Terima kasih.

      Hapus