Inilah Cinta Itu

By Yuniar Djafar - Januari 22, 2021

- Desain diambil dari Canva -


Bismillah.

Saya tidak bisa merunut bagaimana saya kemudian ingin menulis tentang cinta. Ikut kegiatan 30 Hari Bercerita di Instagram memang membuat orang seperti saya--yang masih sulit istiqamah menulis--sangat, sangat terbantu. Saya pikir, seperti mobil atau motor, meski tidak dipakai tetap harus dipanasi. Dan menulis di Instagram buat saya seperti menyalakan stop kontak untuk menyalakan kendaraan bermesin. Khawatirnya kan, kalau tidak demikian otak jadi dingin dan lama-lama karatan tidak bisa dipakai (untuk menulis). Sayang, kan...

Waktu itu pas tanggal ganjil, jadi bisa bebas menulis tanpa tema yang ditetapkan oleh pihak admin 30 Hari Bercerita. Jadilah kemudian saya menulis dengan topik cinta. Selesai menulis saya kepikiran ingin menulisnya lebih leluasa, sekalian "manasin" lagi mesin di kepala. πŸ˜ƒ

Ini adalah sebuah catatan perjalanan hidup saya dalam memahami cinta. Buat saya mencapai pemahaman ini, merupakan proses yang membutuhkan waktu cukup panjang.

Tapi kalau ada yang ingin klarifikasi terlebih dahulu cinta "model" apa yang saya maksud, hihihi..., maka saya bilang cinta yang saya akan sampaikan ini adalah cinta yang bersifat universal, antar manusia. Itu bisa berarti cinta kepada kekasih, cinta kepada orang tua, cinta kepada anak dan seterusnya.

Seperti yang saya tulis di ige saya @yuniardjafar , pemahaman saya tentang cinta memang berubah secara bertahap, berevolusi. Inilah tahapan evolusi cinta yang saya alami. 

1. Cinta Itu Pembuktian.

Ini adalah pemahaman saya yang paling awal. Pada tahapan ini saya selalu menuntut bukti cinta kepada setiap orang. Seperti kolektor, hari demi hari saya menimbang-nimbang, membandingkan dan menggolongkan orang-orang berdasar bukti cinta. Semakin hari tuntutan saya semakin tinggi dalam mendapatkan bukti cinta ini. Kalau tidak begini berarti dia tidak cinta, kalau tidak begitu berarti cintamu palsu, itu yang terjadi pada "mahkamah cinta" saya dalam fase ini.

2. Cinta Itu Pengorbanan.

Dengan bertambahnya waktu yang saya lalui, kesadaran saya tumbuh bahwa kita tidak bisa hanya menuntut. Saya akhirnya menemukan pemahaman bahwa cinta itu memberi. Memberi apa saja yang diminta menjadi perjuangan saya dalam kehidupan yang jalani. Jatuh bangun saya di sini. Kayak judul lagu dangdut, ya? Memang iya...! πŸ˜‚

3. Cinta Itu Keselamatan.

Waktu terus berjalan dan berjalan. Saya tersadarkan dan tercerahkan oleh sebuah nasihat yang saya dapatkan dari seseorang yang memberi nasihat pernikahan. Katanya, "Tugasmu sebagai imam adalah menyelamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka jahanam." Kalimat yang sederhana tapi membuatku tersentak. Orang itu pun menyitir sebuah ayat:

"Hai, orang-orang yang beriman peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka jahanam yang bahan bakarnya manusia dan batu. Penjaga-pejaganya malaikat yang kasar, keras lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." QS. At-Tahrim (66); 6.

Demi mendengar itu, ambyar sudah angan-angan romantis seperti di film-film. Tidak bisa lagi penggalan lirik lagu yang biasa didengarkan saat kasmaran untuk memaknai cinta -- disandingkan dengan peringatan Allah ini.

Cinta semestinya memang bermuara pada satu rasa. Rasa penghambaan kepada Yang Satu, Allah Subhanahu wata'ala. Cinta yang membukakan mata bahwa yang abadi adalah kehidupan di akhirat. Kehidupan itu tak hanya kehidupan pada saat pernikahan atau malam pertama atau saat hati terasa teduh ketika mendengar tangis bayi buah cinta kasih lahir. Karenanya cinta musti disandarkan pada kesadaran itu. 

Jika engkau mencintainya maka engkau pasti menginginkan keselamatannya. Dan keselamatan itu adalah keselamatan di dunia dan akhirat. Karena selain kehidupan di dunia ada lagi kehidupan, kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan di alam akhirat. 

Bagaimana contoh praktiknya? Sofyan ats-Tsaury rohimahullah berkata,

"Jika engkau mengakui mencintai seseorang karena Allah, lalu ketika dia melakukan sebuah dosa engkau tidak marah kepadanya, maka hakekatnya engkau tidak mencintainya karena Allah." (Hilyatul Auliya; 7-34)

Dan yang harus diingat, untuk mewujudkan hal itu maka engkau harus mempersiapkan diri dengan menjaga dirimu agar engkau dapat menyelamatkan orang yang engkau cintai. Tidak mungkin kita bisa menyelamatkan jika kita sendiri tidak selamat. Logis, bukan? 

Inilah cinta itu, menurut saya.



Sumber Pendamping:

Instagram bbg_alilmu










  • Share:

You Might Also Like

27 komentar

  1. Terima kasih Bu Yuniar. Tulisan yg inspiratif. Memang setiap cinta harus bersandar pada cinta kepada Sang Pencipta, cinta yg paling tulus πŸ’•

    BalasHapus
  2. Sama-sama, mbak Aulia. Terima kasih juga sudah mampir.

    BalasHapus
  3. Bener Bu, cinta itu memang hanya bermuara pada satu rasa, karena uncakdari rasa cinta itu adalah penghamaabn kita kepada sang pencipta. Semoga kita semua selalu didekatkandengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah SWT. Aaamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Mujibassailin... Terima kasih, mbak Musdalifah Mansur, jazakillah khayra.

      Hapus
  4. Cinta itu pengorbanan sepertinya paling cocok untuk definisi cinta menurut aku juga mba. butuh pengorbanan memang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, mba Ati, semoga Allah lapangkan dada kita untuk berkorban dengan ikhlas, hanya mengharap ridla-Nya. Aamiin.

      Hapus
  5. Cinta itu katanya tak bisa dideskripsikan karena ketika cinta itu berwujud itu menjadi batasan, entah benar atau ngga yaa pernyataan demikian.

    Aku setuju banget mb, kalau cinta itu memang sebuah pengorbanan, pembuktian nyata banget untuk dua hal ini yaa di keseharian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cinta memang multi tafsir, ya. Tapi memang banyak yang bilang cinta itu pengorbanan. Bisa jadi semuanya itu bergantung pada cara memandang masing-masing person dan pengalaman hidup yang telah dan pernah dilaluinya.

      Hapus
  6. Cinta itu pembuktian, seperti apa yang Mbak Yuniar katakan. Aku setuju sekali dengan ini, karena mungkin akan banyak sekali orang mengaku-aku cinta atau peduli tapi tidak mau membuktikannya. Justru bukan itu poin dari cinta.

    Aku suka post-nya membahas cinta secara universal, karena kita semua juga perlu memahami apa itu cinta, agar tidak dibodohi oleh pemberi cinta itu sendiri😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yass, ada yang menarik dari yang Ibel sampaikan buat saya, 'agar tidak dibodohi oleh pemberi cinta. Bikin pengin merenung... :)

      Hapus
  7. Sejauh yang ku pahami, cinta itu sebaiknya cintai dulu Sang Pencipta sebelum mencintai yang diciptakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, bisa sampai di sini. Saya sepakat, mbak Aisyah.

      Hapus
  8. Cintai Sang Pemilik Cinta, maka akan datang pula cinta-cinta lain yg sesungguhnya.
    Mencintai Sang Pemilik Cinta minimal mampu menjauhi apa yg menjadi laranganNya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, saya setuju dengan quote-nya. Terima kasih,jazakallah khayra.

      Hapus
  9. cinta itu rumit, mbak. masih belum benar-benar mengerti cinta itu apa. Masih proses mencari makna cinta yang sebenarnya, cieeeee, hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bening, santai saja.Tapi yakinlah jika Bening ni, sudah banyak yang mencintai, lo. Barakallahu fiik.

      Hapus
  10. Saya setuju kalo cinta itu pengorbanan mbak, karena kebetulan artikel ini kurang lebih relate sama artikel yang saya tulis di blog saya, mengenai cinta ini sendiri dalam membentuk self motivation kita. Karena sebenernya ga perlu jauh-jauh mencari motivasi dari luar, kalo diri kita sendiri sudah punya cinta (bukan hanya cinta pada pasangan), insyaAllah banyak banget hal yang bisa kita usahakan dari sana, hehe

    BalasHapus
  11. Topik yang menarik mbak.. cinta itu emang merupakan perasaan yang ngga bisa dituliskan, pasti banyak banget kata-kata.. sesuatu yang kompleks tapi sangat simpel secara bersamaan.. to love and to be loved merupakan dua hal yang berbeda, tapi ketika disatukan menjadi arti jatuh cinta yang sempurna.

    Ah kenapa aku komennya jadi deep gini sih haha? ... duh gara-gara baca artikel menarik mbak Yuniar sih hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Berasal dari sanubari yang paling dalam, ni... Terimakasih, Aqmarina. Jazakillah khayra.

      Hapus
  12. Cinta yang tulus itu memang harus dimulai dari Sang Pencipta, baru ke orang tua, keluarga, dan orang yang sangat dekat menurutku, mba~ tulisannya inspiratif banget buat berpikir malam hari, padahal temanya cinta tapi bisa luas banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barakallahu fiik, Orin. Terima kasih, ya, jazakillah khayra.

      Hapus
  13. Tulisan ini membuat aku berfikir tentang cinta kepada Allah SWT, betapa masih jauhnya aku dan imanku. Terima kasih mba tulisannya bermanfaat sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barakallahu fiik, mba Rahma. Jazakillah khayra.

      Hapus
  14. Dalam banget maknanya Mba, bener banget cinta tak hanya romantisme tapi jauh lebih dalam dari itu..suka dengan cinta itu menyelamatkan...karena cinta, kita tak mau dia berbuat dosa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak Dew... Betul, kalau membuat kita terjerumus, itu bukan cinta.

      Hapus
  15. Makasih mba tulisannya... dalem banget tulisannya mba, sangat inspiratif ^^

    Jadi muhasabah lagi tentang cinta....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, ya.. Barakallahu fikk,jazakillah khayra.

      Hapus